alexa snippet

Aku Resi Bisma

Aku Resi Bisma
Anggota Penggurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi dan Promosi Mohamad Sobary. Foto/Koran SINDO
A+ A-
Mohamad Sobary
Esais,
Anggota Penggurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia,
untuk Advokasi, Mediasi dan Promosi,
Penggemar Sirih dan Cengkih, buat kesehatan.
Email: dandanggula@hotmail.com

KAPAN dunia ini bebas dari dilema moral? Mengapa begitu banyak langkah penting di dalam hidup ini selalu diliputi dilema? Mengapa kita harus berani mengambil pilihan buruk, yang dilematis, tidak nyaman, dan tak bisa dihindarkan sama sekali? Mengapa dalam situasi sulit ini kita tak bisa mengambil jarak, untuk bersikap netral?

Jawaban yang bisa membuat perasaan agak sedikit tenteram tak bisa ditemukan. Mengambil sikap netral bukan hanya terlalu mewah bagaikan kaum intelektual yang tinggal di menara gading, tetapi lebih buruk dari itu: sikap netral itu terkutuk. Hidup mungkin tak menghendaki sikap kebanci-bancian yang tak jelas seperti itu.

Pada mulanya Resi Bisma tak ingin sama sekali turut campur tangan dalam Baratayuda, perang antarkeluarga Barata. Dan dia bukan orang lain. Di dalam dirinya mengalir darah biru keluarga Barata. Dia pangeran yang menolak untuk duduk di atas tahta Astina.

Dia merasa posisinya sulit. Turut berperang di pihak Kurawa berarti membela kejahatan. Membantu kekuatan Pandawa berarti membela lima cucunya untuk menghancurkan seratus cucunya yang lain. Di Talkanda, padepokannya, dia termangu-mangu menyadari betapa sulit posisinya.

Tapi ketika Resi Seto turun ke medan Kurusetra sebagai senapati Pandawa, Bisma mengamuk. Banyak prajurit mati di tangannya. Dia ngeri. Inilah perang. Orang harus membunuh, sesuatu yang dihindarinya, atau dibunuh. Dia tahu dia tak bisa mati, tak bisa dibunuh, kecuali dia rela atas kematiannya.

Melihat Bisma membunuh begitu banyak prajurit, Seto tak bisa menahan diri. Dia mengamuk dan menuduh Bisma buta terhadap darma, buta terhadap kebenaran.

”Aku tidak buta, Seto,” jawabnya.

”Tapi mengapa kau membela Kurawa? Apa kau tak tahu bahwa dalam perang ini Kurawa yang salah, Pandawa yang benar? Mengapa salah dan benar kau campuradukkan seperti orang buta?”

”Apa bukan kamu yang buta? Baratayuda ini perang antarkeluarga Barata dan kau orang asing. Mengapa kau campur tangan? Aku turun ke medan laga untuk mencegahmu, menolak campur tangan asing dalam urusan keluarga ini.

”Keluarga Pandawa itu cucuku, bukan orang lain. Aku membalas jasa mereka yang sangat besar. Apa rohaniwan seperti kau buta bahwa membalas jasa itu darma hidup?”

” Kau bukan trah Barata. Aku tak rela negeriku dirusak oleh kepentingan asing. Aku tak membela Kurawa, tapi membela negeriku dari kerusakan yang kau timbulkan.”

***
Dan pertempuran pun berlanjut. Tapi ini bukan cerita mengenai peperangan, melainkan cerita tentang dilema dalam kehidupan. Kisah perang kita akhiri di sini. Tapi keruwetan dilema kita lanjutkan.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top