alexa snippet

Urgensi Rujuk Politik SBY-Mega

Urgensi Rujuk Politik SBY-Mega
Keluhan SBY di media baru-baru ini, di mata banyak pihak, dinilai sebagai dampak putusnya komunikasi politik dengan Megawati. Selama 10 tahun menjadi Presiden, komunikasi SBY dengan Megawati macet. Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
Asmadji AS Muchtar
Wakil Rektor III Universitas Sains Al-Quran Wonosobo Jawa Tengah

KELUHAN-keluhan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di media baru-baru ini, di mata banyak pihak, dinilai sebagai dampak putusnya komunikasi politik dengan Megawati.

Sejarah mencatat, selama 10 tahun menjadi Presiden, komunikasi politik SBY dengan Megawati putus atau macet. Bahkan keduanya enggan duduk bersama membahas masalah bangsa dan negara.

Sikap tersebut diperkuat dengan pilihan politik Megawati yang oposan terhadap pemerintahan SBY. Namun, setelah pilpres dimenangkan oleh kader partainya (Jokowi), Megawati menyatakan segera mengakhiri sikap oposannya karena partainya (PDIP) memang menjadi partai pemerintah.

Pada saat yang bersamaan, SBY juga menyatakan dirinya bersama partainya (Partai Demokrat) akan menjadi penyeimbang alias oposisi. Terkait rotasi posisi politik tersebut, alangkah baiknya jika Megawati dan SBY melakukan komunikasi politik yang proporsional agar berdampak positif bagi bangsa dan negara.

Dalam hal ini, pengalaman sebagai presiden tentu bisa dimanfaatkan untuk membantu pemerintah memperbaiki bangsa dan negara yang sangat besar ini. Layak disadari, sikap saling menjauh bagi sesama mantan presiden layak dianggap kontraproduktif, lebih-lebih jika didasari kepentingan sempit bersifat politis dan egosentris.

Dengan kata lain, terlalu mahal jika kepentingan bangsa dan negara dikalahkan oleh kepentingan sempit politis dan egosentris segelintir orang, walaupun mantan presiden sekalipun. Sekarang, bagi Megawati dan SBY sama-sama memasuki usia menjelang senja.

Tak perlu banyak pertimbangan bagi keduanya untuk duduk bersama membantu pemerintah membangun bangsa dan negara, jika ingin menggapai happy ending sebagai “Ibu Bangsa” dan “Bapak Bangsa”.

Posisi Steril
Jika dulu ada perselisihan politik atau bahkan pertarungan politik antara Megawati dan SBY, hal itu harus dianggap bagian masa lalu yang tak perlu dilanjutkan lagi.

Pada titik ini, keduanya layak menjauh dari pertarungan politik atau memilih mengambil posisi steril dari tarik-menarik antara kekuatan-kekuatan politik yang ada sekarang. Yang dimaksud posisi steril adalah posisi terhormat yang dibangun di luar semua kekuatan politik yang ada.

Lebih konkretnya, Megawati dan SBY sebaiknya membangun lembaga baru yang bisa saja diberi nama Forum Mantan Presiden yang salah satu agendanya memberikan advisadvis tentang berbagai kebijakan yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk membangun bangsa dan negara dalam arti seluas-luasnya.

Tentu bukan hal yang sulit bagi Megawati dan SBY jika mengambil posisi steril dari hiruk-pikuk pertarungan politik sekarang, kalau niat rujuk politik sudah mantap semata-mata demi bangsa dan negara, bukan demi kepentingan sempit politis dan egosentris.

Bahkan, jika Megawati dan SBY sudah mengambil posisi steril, justru akan memungkinkan untuk berperan penting ketika muncul pergolakan politik. Misalnya, jika kubu Koalisi Merah Putih dengan kubu Koalisi Indonesia Hebat makin tidak akur, Megawati dan SBY dalam posisi steril justru bisa menjadi penengah yang diterima semua pihak.
halaman ke-1 dari 3
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top