alexa snippet

Pertanian untuk Meningkatkan Kualitas Pertumbuhan

Pertanian untuk Meningkatkan Kualitas Pertumbuhan
Pertanian untuk Meningkatkan Kualitas Pertumbuhan
A+ A-
Bustanul Arifin
Guru Besar Unila dan Ekonom Senior INDEF
 
PERTUMBUHAN ekonomi dianggap berkualitas apabila perekonomian tidak terlalu banyak dihinggapi tiga persoalan besar yakni ketimpangan, kemiskinan, dan pengangguran.

Agak sulit untuk membanggakan kinerja perekonomian yang mencatat pertumbuhan 5,02%, tapi ketimpangan pendapatan masih besar dengan indeks gini 0,40, angka kemiskinan mendekati 11%, dan pengangguran 5,6%. Pada triwulan III 2016 pertumbuhan sektor pertanian hanya 2,67%, masih cukup jauh untuk mampu berkontribusi pada peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi.

Artikel ini membahas peran pertanian untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan, sesuatu yang menjadi ganjalan dalam kinerja perekonomian Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla. Penutup artikel ini adalah saran untuk reposisi strategi pembangunan pertanian agar lebih efektif mampu berkontribusi sebagai pengganda pendapatan dan pengganda lapangan kerja.

Literatur ekonomi tentang ketimpangan pendapatan telah banyak dan menjadi fokus kajian selama bertahun-tahun, baik pada tingkat global maupun pada tingkat domestik. Literatur itu bahkan dapat dirunut jauh ke belakang sampai pada era Simon Kuznets pada dekade 1950-an.

Pemikiran Kuznets tentang hubungan tingkat pendapatan atau produk domestik bruto (PDB) dengan ketimpangan pendapatan berbentuk Kurva-U terbalik walaupun bukan tanpa kritik. Pada tahap awal tingkat pendapatan rendah dan ketimpangan juga rendah. Kemudian, pendapatan meningkat, ketimpangan juga meningkat, sampai pada suatu titik kritis tertentu, pendapatan meningkat, ketimpangan pun menurun.

Pada tingkat perekonomian yang tinggi, ketimpangan pendapatan akhirnya rendah. Literatur terbaru tidak sekadar menelusuri Kurva-U tersebut, tapi banyak membedah determinan dari ketimpangan pendapatan tersebut, mulai dari kualitas kebijakan fiskal, belanja negara dan perpajakan, ketidakstabilan politik, sampai pada dimensi ekonomi-politik yang lebih komprehensif (misalnya Jaejoon Woo, 2011; Inyong Shin, 2012; Atkinson, 2015; dan lain-lain).

Pada tataran global, fenomena ketimpangan ekonomi dapat dituliskan secara sederhana sebagai berikut: (1) Ketimpangan di China dan India amat buruk, mendekati angka indeks gini 50, atau dua kali lipat dari indeks gini negara-negara Nordic di Eropa; (2) Ketimpangan di Amerika Latin cukup tinggi: Meksiko, Peru, Uruguay, Brasil, Kolombia; dan (3) Ketimpangan di negara maju OECD juga masih tinggi, tapi ada kecenderungan terjadi penurunan sejak 1980-an.

Sesuatu yang perlu dicatat adalah data ketimpangan pada tataran global tidak mudah untuk diperbandingkan karena sumber data dan kualitasnya sering bermasalah.
 
Ketimpangan dan Kemiskinan
Di dalam negeri, ketimpangan pendapatan dan kemiskinan adalah dua fenomena yang saling berhubungan dan menjadi persoalan tersendiri dalam pembangunan ekonomi.

Angka resmi Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2016 menunjukkan bahwa rasio gini pada Maret 2016 tercatat 0,397 atau terjadi sedikit penurunan dari angka Maret 2015 sebesar 0,408 pada skala tiga digit di belakang koma.

Angka kemiskinan pada Maret 2016 masih tercatat 10,86% atau mengalami penurunan dari 11,22% pada Maret 2015. Dalam angka absolut, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan masih 28,01 juta orang pada Maret 2016, lebih rendah dari 28,59 juta orang pada Maret 2015.

Di samping itu, angka kemiskinan di perdesaan, yang sebagian besar bekerja di pertanian, juga meningkat menjadi 17,89 juta jiwa pada 2015 (62,7% dari total orang miskin) dari 17,73 juta jiwa (62,6%) pada 2014.

Dalam hal lapangan kerja, jumlah penduduk bekerja pada Agustus 2016 tercatat 118,4 juta orang atau 94,4% dari jumlah angkatan kerja 125,4 juta orang. Angka itu bertambah 3,6 juta orang dibandingkan jumlah penduduk bekerja pada Agustus 2015 sebesar 114,8 juta orang atau 93,8% dari jumlah angkatan kerja 122,4 juta orang.

Artinya, jumlah penganggur di Indonesia pada Agustus 2016 tercatat 7,03 juta (5,61%) atau mengalami penurunan 530.000 orang dari jumlah penganggur pada Agustus 2015 sebesar 7,56 juta orang (6,18%). Pekerja di sektor pertanian naik sedikit dalam jumlah, sekitar 20.000 orang, dari 37,75 juta orang pada 2015 menjadi 37,77 juta orang pada 2016.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top