alexa snippet

Media Sosial

Banyak Akun Catut Nama Panglima, TNI Ingatkan Bahaya Hoax

Banyak Akun Catut Nama Panglima, TNI Ingatkan Bahaya Hoax
Banyak Akun Catut Nama Panglima, TNI Ingatkan Bahaya Hoax
A+ A-
JAKARTA - Penyebaran berita bohong atau hoax melalui media sosial dinilai semakin masif dan merugikan banyak pihak. Institusi TNI merupakan salah satu pihak yang merasa dirugikan lantaran beredarnya kabar hoax di media sosial (medsos).

Berdasarkan catatan Pusat Penerangan TNI, informasi atau berita yang berkembang di medsos belakangan ini didominasi berita bohong. Berita tersebut di antaranya berisi fitnah, adu domba, hingga provokasi.

Pusat Penerangan TNI juga mencatat sejumlah berita bohong yang merugikan institusi TNI dan nama baik Panglima TNI, antara lain, dukungan kepada Panglima TNI untuk menjadi presiden, isu makar yang dilakukan oleh purnawirawan TNI

Ada pula isu ceramah Panglima TNI pada acara Maulid Nabi di Petamburan, isu keberpihakan TNI kepada rakyat bertujuan makar, rumor jabatan Panglima TNI mau dicopot, Kuda Troya Jokowi dan Gatot Nurmantyo, hingga isu Panglima TNI minta sumbangan untuk korban gempa Aceh.
 
Selain itu, penggunaan akun yang mengatasnamakan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo juga beredar di medsos.Di Facebook misalnya, ada 26 akun atas nama Gatot Nurmantyo.

"Semuanya sangat merugikan institusi dan pribadi Jenderal TNI Gatot Nurmantyo," kata Kapuspen TNI Mayjen TNI Wuryanto melalui keterangan pers, Sabtu (31/12/2016).

Wuryanto menilai, medsos merupakan sarana komunikasi paling efektif untuk membentuk opini publik. Penyebaran pesannya hampir tidak dapat dibendung. Saat ini sekitar 130 juta penduduk Indonesia, termasuk prajurit TNI memanfaatkannya.
 
Medsos dinilai Wuryanto menjadi medan pertempuran mencapai tujuan. Apalagi medsos terbilang murah, efektif, mudah, cepat dan memiliki cakupan luas. (Baca juga: Menkominfo: Jangan Berhenti Lawan Hoax dan Provokasi)
 
Wuryanto mengimbau semua komponen masyarakat untuk menyikapi medsos ini dengan pembelajaran, kedewasaan, dan penuh kehati-hatian.
 
“Harus ada edukasi kepada masyarakat menyikapi berita di media sosial, harus cek kepada yang berwenang, dan jangan mudah untuk menyebarkan kembali berita-berita tersebut,” ucap Wuryanto.

Wuryanto juga mengungkapkan pentingnya kanalisasi dengan memberikan penyadaran dan pendewasaan kepada pengguna media sosial.

Hal tersebut untuk menumbuhkan kesadaran, sikap kritis dan cerdas masyarakat sehingga dapat memilah berita yang positif, bermanfaat sesuai dengan keinginannya.
 
“Kita harus menguasai teknologi informasi dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan bangsa. Gunakan teknologi informasi dengan tujuan yang jelas, jangan dikalahkan teknologi, tetapi jadilah tuan atas teknologi,” tutur Wuryanto.



(dam)
loading gif
Top