alexa snippet

Kisah Sandera GAM-OPM (Bagian-12)

Kelaparan dan Kurang Gizi, Sandera Berburu Tikus Hutan

Kelaparan dan Kurang Gizi, Sandera Berburu Tikus Hutan
Hutan yang ada di Indonesia. Foto/Dok/SINDOnews/Ilustrasi.
A+ A-
GUNA menghindari kejaran tentara, para sandera dipaksa berkelana di hutan belantara Mapnduma dibawah ancaman senjata GPK/OPM. Tak peduli malam, siang, cuaca terang bahkan hujan pun dipaksa jalan.

Seperti saat perjalanan sandera dari kamp 3 ke kamp 4. Sandera menamai lokasi pemberhentian sementara dengan nama Kamp. Jadilah kamp 1 dan seterusnya.

Setelah bercucuran keringat, akhirnya sandera tiba di kamp 4 yang tendanya sedang dibikin pasukan suku Amungme. Apesnya, tenda belum tuntas hujan deras seperti dijatuhkan dari langit.

Lengkaplah penderitaan para sandera. Sudah kelaparan, capai kini basah kuyup. Untuk menghangatkan tubuh, saya (Adinda-red),  Navy dan Jualita duduk berhimpitan.

Belum hilang rasa penat, hanya dua hari tinggal di kamp 4, sandera dipaksa jalan lagi. Sander protes. “Kami capai. Belum habis capainya,” protes sandera. Tapi, pimpinan OPM berang. Yudas menodongkan M16 ke sandera, Silas mengacungkan belati berkarat sedangkan Titus Murip mengayun-ayunkan belati pisau hutan milik Navy yang dicuri. “Tidak ada capek. Pindah,” teriak mereka serempak.

Tak ada pilihan bagi para sandera selain menuruti perintah OPM. Perjalanan dari kamp 4 menuju kamp 5 tak kalah beratnya dari perjalanan sebelumnya. Sandera harus melewati  hutan lebih lebat, menyeberangi sungai, rawa, dinding tebing nan terjal.

Setelah berjam-jam sampailah ke kamp 5. Pondok dibuat dari terpal milik sandera hanya ditutupi dedaunan. Hanya sehari di kamp 5, pagi-pagi terdengar suara heli. Pasukan OPM panik luar biasa. Seraya mengangkat senjata M16, mereka memerintahkan sandera lari, sedangkan gubuk atau tenda segera dirobohkan. Mereka mengira itu heli ABRI dan takut lokasi persembunyian diketahui.

Ketakutan OPM itu berlebihan, jangankan diketahui heli, lokasi sandera yang berada di hutan belantara lebat, sinar matahari pun tidak bisa tembus. Saking lebatnya hutan.

Hari itu sandera dipaksa berjalan seharian dengan menyusuri Sungai Kilmit tidak lebar tapi berarus kuat.  Setelah hari mulai gelap, pasukan Amungme dibawah pengawasan Kelly Kwalik membuat tenda di kamp 6. Kerjanya cepat tapi jelek. Saat hujan tenda, pondok bocor disana-sini.

Tapi, hanya satu malam esoknya sandera dipaksa pindah lagi ke kamp 7. Dengan kondisi sandera yang kecapaian dan sebagian sakit mereka dipaksa berjalan lagi. Saya dan Navy jalan terseok-seok di barisan belakang. Ditambah cuaca buruk, hujan dan berkabut tebal.

Akhirnya, sandera tiba di kamp 7. Kali ini tenda dibuat lebih besar yang berlokasi di pinggir sungai berarus deras. Tiga ransel besar milik sandera hilang di kamp 7. Tapi, OPM acuh saja.

Di kamp 7 penderitaan para sandera mencapai puncaknya. Tidak sekadar stres tapi sudah dalam taraf depresi karena tidak jelas kapan dibebaskan. Rasa lelah fisik mental membuat sandera nyaris gila. Jualita sampai terisak-isak. “Kenapa tidak selesai-selesai. Kenapa tidak berakhir,” ujarnya lirih seraya sesegukan. Aku ikut menangis  sambil menghibur. ”Mbak Lita, ingat Tuhan, ingat keluarga,” kataku pelan.

Air mata dan penyakit mewarnai kehidupan para sandera. Martha yang hamil lima bulan terserang malaria karena belum minum obat antimalaria primaquin yang termasuk keras.
halaman ke-1 dari 6
loading gif
Top