Ngegas-Ngerem Demi Ekonomi dan Kesehatan
Senin, 27 Juli 2020 - 06:55 WIB
loading...
A
A
A
Dengan data-data ekonomi seperti di atas, harapan terhadap sektor konsumsi dalam negeri rasanya cukup rasional. Apalagi masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah sejak lama diperlonggar. Aktivitas ekonomi pun sudah mulai menggeliat. Lalu lintas di jalanan semakin ramai. Pun demikian tempat-tempat umum seperti restoran dan kafe, mulai banyak didatangi pembeli setelah tiga bulan lebih tak melayani makan di tempat.
Di satu sisi, ramainya area-area komersial ini menjadi harapan tersendiri karena roda ekonomi kembali berputar. Di sisi lain, laporan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 justru menunjukkan terus bertambahnya jumlah pasien positif Covid-19. Pada Minggu (26/7) masih terjadi penambahan kasus positif sebanyak 1.492 orang sehingga totalnya menjadi 98.778 orang. Adapun jumlah pasien meninggal total mencapai 4.781 orang. Dari penambahan jumlah positif tersebut, terbanyak terjadi di DKI Jakarta sebanyak 384 orang dan Jawa Timur 283 orang.
Data-data kinerja ekonomi dan fakta terus bertambahnya jumlah pasien Covid-19 itu hendaknya menjadi pertimbangan kembali bagi pemerintah untuk mengambil langkah pemulihan yang tepat di masa mendatang. Harus diingat, bagaimanapun penambahan kasus positif korona dan jumlah pasien meninggal bukan sekadar angka. Di sana ada keluarga, ada pencari nafkah, ada generasi muda yang semuanya punya tanggung jawab, meski hanya di lingkungan terkecilnya.
Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada sebuah diskusi virtual Jumat (24/7) lalu mungkin bisa menjadi pegangan. Saat itu dia berujar, pemerintah akan terus memacu roda ekonomi pada kuartal III dan IV agar terhindar dari resesi. Hal ini untuk merespons lambatnya laju pertumbuhan ekonomi kuartal II/2020 yang diprediksi bakal mengalami kontraksi alias minus. Namun, ujar Sri Mulyani, apabila ternyata ancaman kesehatan terus meningkat, pemerintah terpaksa akan mengerem upaya pemulihan tersebut.
Komitmen ini semestinya menjadi acuan jika pemerintah ingin tetap memutar roda ekonomi, tanpa mengesampingkan kesehatan. Semoga saja, para pemangku kepentingan di negeri ini bisa mengatur kapan harus ”ngegas” dan kapan harus ”ngerem”.
Di satu sisi, ramainya area-area komersial ini menjadi harapan tersendiri karena roda ekonomi kembali berputar. Di sisi lain, laporan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 justru menunjukkan terus bertambahnya jumlah pasien positif Covid-19. Pada Minggu (26/7) masih terjadi penambahan kasus positif sebanyak 1.492 orang sehingga totalnya menjadi 98.778 orang. Adapun jumlah pasien meninggal total mencapai 4.781 orang. Dari penambahan jumlah positif tersebut, terbanyak terjadi di DKI Jakarta sebanyak 384 orang dan Jawa Timur 283 orang.
Data-data kinerja ekonomi dan fakta terus bertambahnya jumlah pasien Covid-19 itu hendaknya menjadi pertimbangan kembali bagi pemerintah untuk mengambil langkah pemulihan yang tepat di masa mendatang. Harus diingat, bagaimanapun penambahan kasus positif korona dan jumlah pasien meninggal bukan sekadar angka. Di sana ada keluarga, ada pencari nafkah, ada generasi muda yang semuanya punya tanggung jawab, meski hanya di lingkungan terkecilnya.
Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada sebuah diskusi virtual Jumat (24/7) lalu mungkin bisa menjadi pegangan. Saat itu dia berujar, pemerintah akan terus memacu roda ekonomi pada kuartal III dan IV agar terhindar dari resesi. Hal ini untuk merespons lambatnya laju pertumbuhan ekonomi kuartal II/2020 yang diprediksi bakal mengalami kontraksi alias minus. Namun, ujar Sri Mulyani, apabila ternyata ancaman kesehatan terus meningkat, pemerintah terpaksa akan mengerem upaya pemulihan tersebut.
Komitmen ini semestinya menjadi acuan jika pemerintah ingin tetap memutar roda ekonomi, tanpa mengesampingkan kesehatan. Semoga saja, para pemangku kepentingan di negeri ini bisa mengatur kapan harus ”ngegas” dan kapan harus ”ngerem”.
(ras)