alexametrics

Mukidi Bisa Diekspor dan Menjadi Instrumen Diplomasi

loading...
Mukidi Bisa Diekspor dan Menjadi Instrumen Diplomasi
Salah satu konten Cerita Mukidi yang beredar luas di pesan instan dan media sosial. (Istimewa)
A+ A-
Hariqo Wibawa Satria

Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi.

CERITA-Cerita Mukidi adalah konten berbasis teks yang mampu bersaing dengan konten seperti foto, meme, video pendek yang memang jauh lebih cepat dicerna ketimbang tulisan. Mengapa?

Jika kita perhatikan, sepanjang 2009 hingga 2016, konten tulisan yang panjang-panjang ”tersingkir” oleh konten seperti foto, meme video pendek, atau konten audio visual lainnya yang cepat dicerna. Konten yang paling cepat diproduksi adalah foto dan video kejadian, begitu ”cekrek”, bisa langsung di-upload di media sosial atau grup percakapan, bisa jadi viral bisa juga tidak.

Video keong racun dan meme Bekasi adalah contoh sukses. Tulisan termasuk konten yang sulit, butuh imajinasi tinggi dan gaya penyajian yang pas.

Namun, dengan viralnya Cerita-Cerita Mukidi di berbagai grup layanan pesan instan, media sosial, membuktikan bahwa konten tulisan mampu bersaing di era digital. Ini bukti bahwa masyarakat masih suka membaca tulisan yang panjang-panjang, ini kabar gembira dan motivasi bagi para penulis.

Cerita Mukidi yang berbasis teks hadir di tengah dominasi foto, meme, dan video pendek. Selera masyarakat tidak berubah, konten yang paling disukai adalah yang lucu dan menghibur. Cerita Mukidi punya kekuatan di Mukidinya, banyak cerita Mukidi yang hits, sehingga jika ada cerita baru Mukidi bisa dianggap sama lucunya dengan cerita sebelumnya.

Dari Pak Soetantyo Moechlas (62), penulis Cerita-Cerita Mukidi, kita dipesankan banyak hal. Pertama, konten tulisan akan tetap eksis di dunia digital, tergantung isi konten dan penyajiannya dan seberapa konsisten kita memproduksinya, Cerita Mukidi sudah lama diproduksi secara konsisten dan baru sekarang populer. Jadi populernya Cerita Mukidi sebanding dengan kerja keras penulisnya.

Kedua, dunia konten adalah milik siapa saja yang berani produksi, bukan dominasi anak muda. Orang berusia 62 tahun seperti Pak Soetantyo bisa mengalahkan generasi muda yang masih jadi penikmat konten.

Dalam banyak diskusi tentang media baru yang diadakan oleh Komunikonten, sering dikatakan bahwa generasi yang lahir tahun 90-an sudah kurang tertarik membaca konten-konten berisi tulisan yang panjang. Mereka lebih tertarik pada konten sederhana yang cepat dicerna dan spontan membuat orang senyam- senyum. Sekali lagi Cerita Mukidi membuktikan bahwa ungkapan itu tidak selalu benar.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Cerita-Cerita Mukidi bisa diekspor sehingga menjadi instrumen diplomasi mengenalkan budaya Indonesia? Bisa saja. Tinggal disesuaikan dengan selera humor penghuni bumi, diterjemahkan ke bahasa dunia.

Bukan hal yang mustahil jika suatu hari nanti saat kita naik pesawat terbang, tayangan-tayangan ”Just For laughs” yang biasa kita tonton berganti dengan Cerita-Cerita Mukidi yang lucu dan sarat pesan. Cerita-Cerita Mukidi juga bisa divideokan bukan?

Nah sekarang pilihan ada pada kita. Dengan fakta kecepatan akses internet, terjangkaunya harga telepon pintar dan kian banyaknya aplikasi media sosial serta grup percakapan telah memudahkan siapapun membuat, menyebar konten seperti meme, video, foto, infografis, serta tulisan. Kini setiap orang bisa memilih, jadi sekadar penikmat konten, atau sekaligus produsen konten.
(poe)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak