alexametrics

GSBI Sebut Rezim Jokowi Tak Pernah Mau Dengar Aspirasi Rakyat

loading...
GSBI Sebut Rezim Jokowi Tak Pernah Mau Dengar Aspirasi Rakyat
Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, menuntut RUU Cipta Kerja dihentikan, Kamis (16/7/2020). FOTO/SINDOnews/RICO AFRIDO SIMANJUNTAK
A+ A-
JAKARTA - Ketua Umum Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI), Rudi HB Daman menilai rezim Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak pernah mau mendengarkan aspirasi rakyat. Karena itu, mereka turun ke jalan berunjuk rasa menuntut Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja dihentikan.

"Rezim Jokowi dia enggak pernah mau dengar aspirasi rakyat, tapi dia dengar aspirasi tuannya," kata Rudi HB Daman kepada wartawan di depan Gedung DPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Dia mengatakan, aspirasi yang didengar rezim Jokowi adalah kepentingan kapitalis monopoli, yaitu Amerika Serikat dan China. "Jadi, enggak didengar rakyat mau ngomong apapun enggak didengar, termasuk anggota DPR. Itulah yang kita sebut kepala batu, mereka rezim antirakyat, dia enggak pernah dengar aspirasi rakyat," katanya.(Baca juga: Protes Omnibus Law Cipta Kerja, Buruh Kapok Bertemu Anggota DPR)

Menurutnya, RUU Omnibus Law Cipta Kerja adalah karpet merah untuk kepentingan kapitalis. "RUU ini adalah yang merugikan kaum buruh dan RUU karpet merah bagi kepentingan kapitalis atau invetasi asing ke Indonesia," ujarnya.



Dia memberikan contoh, dalam Omnibus Law Cipta Kerja, tidak ada pembatasan penggunaan tenaga kerja asing (TKA). "Kalau di undang-undang lama, itu masih ada pembatasan-pembatasan. Pekerja asing hanya untuk tenaga ahli. Kalau sekarang melalui Omnibus Law, seluruh jenis pekerjaan, itu bisa menggunakan TKA," katanya.(Baca juga: Azan Berkumandang, Demonstran Salat Zuhur Berjamaah di Depan Gedung DPR)
(abd)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak