Profil Ishak Daud, Panglima GAM yang Disegani pada Zamannya
Sabtu, 20 Agustus 2022 - 16:15 WIB
Mengenai perawakan Ishak Daud pernah dituliskan oleh wartawan senior, Nani Afrida dalam blog pribadinya pada Januari 2013 silam. Menurutnya, Ishak Daud bertubuh tinggi besar dan tegap. Cara bicaranya tegas berlogat melayu.
"Beberapa orang yang dekat dengannya memanggil Teungku (Teungku Ishak Daud) ini dengan sebutan "Abusyik" atau kakek," tulis Nani Afrida dalam artikel berjudul "Panglima Ishak Daud di Mata Saya (Bagian I)" dikutip, Sabtu (20/8/2022).
Profil Ishak Daud
Nama lengkapnya Teungku Ishak Daud. Ia lahir dari pasangan Muhammad Daud bin Tengku Basyah dan Nuriah di Desa Blang Glumpang Kuala Idie, Kecamatan Idie Rayeuk, Aceh Timur pada 12 Januari 1960.
Ishak Daud lahir dari keluarga miskin. Ayahnya merupakan seorang nelayan, sedangkan ibunya berjualan kue. Tak hanya keluarganya, waktu itu, mayoritas masyarakat Desa Blang Glumpang Kuala Idie juga berada di bawah garis kemiskinan.
Kondisi ini memaksa Ishak Daud pergi merantau ke Malaysia pada usia 24 tahun. Dia bekerja serabutan, dari mulai kuli bangunan hingga penjaga restoran. Namun ia tidak betah sehingga memutuskan pindah merantau ke Singapura. Meski sama-sama bekerja serabutan, tapi paling tidak banyak orang Aceh di Negeri Singa tersebut.
Ishak Daud mulai mengenal Gerakan Aceh Merdeka di Singapura. Ia sering mengikuti pertemuan-pertemuan yang digelar oleh para aktivis GAM yang akhirnya membentuk pemikirannya tentang Aceh dan sejarahnya. Hatinya pun bulat ingin bergabung dengan GAM.
Pada Juni 1987, ia akhirnya resmi bergabung dengan GAM setelah disumpah oleh Tengku Abdullah Musa. Ishak Daud kemudian terpilih menjadi salah satu dari 40 pemuda yang dikirim pemimpin GAM Hasan Tiro ke Libya untuk berlatih perang.
Selesai latihan perang di Libya, Ishak Daud kembali ke kampungnya. Namun, ia tak langsung menunjukkan diri sebagai anggota GAM. Ia bekerja sebagai pedagang ikan sambil diam-diam merekrut pemuda untuk masuk menjadi anggota GAM.Setelah dirasa cukup mendapatkan pengikut, Ishak Daud kemudian memulai perjuangannya sebagai anggota GAM.
"Beberapa orang yang dekat dengannya memanggil Teungku (Teungku Ishak Daud) ini dengan sebutan "Abusyik" atau kakek," tulis Nani Afrida dalam artikel berjudul "Panglima Ishak Daud di Mata Saya (Bagian I)" dikutip, Sabtu (20/8/2022).
Profil Ishak Daud
Nama lengkapnya Teungku Ishak Daud. Ia lahir dari pasangan Muhammad Daud bin Tengku Basyah dan Nuriah di Desa Blang Glumpang Kuala Idie, Kecamatan Idie Rayeuk, Aceh Timur pada 12 Januari 1960.
Ishak Daud lahir dari keluarga miskin. Ayahnya merupakan seorang nelayan, sedangkan ibunya berjualan kue. Tak hanya keluarganya, waktu itu, mayoritas masyarakat Desa Blang Glumpang Kuala Idie juga berada di bawah garis kemiskinan.
Kondisi ini memaksa Ishak Daud pergi merantau ke Malaysia pada usia 24 tahun. Dia bekerja serabutan, dari mulai kuli bangunan hingga penjaga restoran. Namun ia tidak betah sehingga memutuskan pindah merantau ke Singapura. Meski sama-sama bekerja serabutan, tapi paling tidak banyak orang Aceh di Negeri Singa tersebut.
Ishak Daud mulai mengenal Gerakan Aceh Merdeka di Singapura. Ia sering mengikuti pertemuan-pertemuan yang digelar oleh para aktivis GAM yang akhirnya membentuk pemikirannya tentang Aceh dan sejarahnya. Hatinya pun bulat ingin bergabung dengan GAM.
Pada Juni 1987, ia akhirnya resmi bergabung dengan GAM setelah disumpah oleh Tengku Abdullah Musa. Ishak Daud kemudian terpilih menjadi salah satu dari 40 pemuda yang dikirim pemimpin GAM Hasan Tiro ke Libya untuk berlatih perang.
Selesai latihan perang di Libya, Ishak Daud kembali ke kampungnya. Namun, ia tak langsung menunjukkan diri sebagai anggota GAM. Ia bekerja sebagai pedagang ikan sambil diam-diam merekrut pemuda untuk masuk menjadi anggota GAM.Setelah dirasa cukup mendapatkan pengikut, Ishak Daud kemudian memulai perjuangannya sebagai anggota GAM.
Lihat Juga :