Ramai-ramai mundur dari Golkar

Sabtu, 17 September 2011 - 18:29 WIB
Ramai-ramai mundur dari Golkar
Ramai-ramai mundur dari Golkar
A A A
Sindonews.com - Belum hilang dari ingatan, politisi senior Golkar Surya Paloh mundur dari partai yang telah dihuninya sejak 1969. Alasannya, Paloh akan berkonsentrasi di organisasi masyarakat Nasional Demokrat yang telah dideklarasikannya bersama 45 tokoh nasional di Istora Senayan, 1 Februari 2010.

Kini jejak Paloh diikuti oleh politisi Golkar lainnya di Sumatera Utara. Mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golkar Sumatera Utara Ali Umri, mendeklarasikan pengunduran dirinya dari partai berlambang beringin tersebut.

Berbeda dengan Paloh, Umri yang saat ini menjabat sebagai Ketua Partai Nasdem Sumatera Utara ini, secara terbuka mengaku akan mengabdikan dirinya untuk partai itu. "Saya Ali Umri, mantan Ketua DPD Partai Golkar Sumut menyatakan mengundurkan diri dari Partai Golkar dan siap mengabdi pada Partai Nasdem," tegas Umri di kediamannya, Jalan Karya Dalam, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (17/9/2011).

Diakui mantan Wali Kota Binjai dua periode ini, dirinya memang mengikuti jejak Surya Paloh. "Saya ini kader Surya Paloh. Jadi kalau Surya Paloh mundur, apalagi yang mau dipertahankan," katanya. Surat pengunduran diri akan dikirimkannya segera kepada DPP Partai Golkar sebagai bukti konkret atas pernyataannya.

Ternyata Umri tidak sendiri. Dia membawa sebagian besar kader Golkar yang ada di Sumatera Utara. Umri mengungkap kader Golkar yang dibawanya mencapai ratusan ribu, yang berasal dari 33 kabupaten/kota, 416 kecamatan, 7.000 desa dan kelurahan yang ada di Sumatera Utara.

Kader yang keluar dari Golkar disebutkan merupakan binaan Surya Paloh. Sehingga tidak ada alasan untuk tetap berada di partai berlambang beringin itu, saat Surya Paloh memutuskan keluar. "Cuma Nasdem yang menjanjikan restorasi, bukan Golkar," tandasnya.

Para kader Golkar yang mengundurkan diri ini pun diakuinya siap memberikan suaranya untuk Partai Nasdem di pemilu 2014. "Kami akan bekerja keras untuk kemenangan Nasdem di pemilu mendatang," jelasnya.

Surya Paloh memilih keluar dari Golkar setelah adanya ultimatum dari DPP yang tidak memperkenankan kadernya berada di dua kaki. Petinggi Golkar mengumumkan tanggal 11 Agustus 2011 sebagai batas akhir bagi kader untuk mengambil sikap.

Merasa tersindir dengan ultimatum tersebut, Paloh sebagai pendiri Nasdem memutuskan hengkang dari partai warisan Orde Baru itu satu hari sebelum deadline. Dalam konferensi pers yang digelar di kantor DPP Nasdem, Menteng, Jakarta Pusat, Paloh membeberkan penilaian negatifnya terhadap Golkar. Salah satu penilaian yang disampaikan Paloh terkait perolehan suara Golkar yang terus menurun selama tiga kali pemilu.

"Pada Pemilu 1999, perolehan suara yang didapat mencapai 24 persen. Pada 2004, Golkar tidak mampu mempertahankan perolehannya menjadi 20 persen. Begitu juga pada 2009, turun jadi 14 persen. Ini menjadi tren penurunan dalam jangka waktu. Tentu ini menjadi perenungan, ada apa ini? Apa yang salah?" papar Paloh saat itu.

Di akhir penjelasannya, Paloh juga mengaku kariernya di Partai Golkar sudah masuk dalam tahap antiklimaks. Hal itu tidak berlaku politikus sepertinya, dan di dunia politik secara global.

Disebutkan, setelah ultimatum yang sempat diperpanjang itu, dari 11 kader Golkar yang aktif di Nasdem, tersisa empat kader yang memilih bertahan. Yakni Enggartiasto Lukita, Meutya Hafidz, Jeffrie Geovani, dan Sayed Fuad Zakaria.

Editor: Hariyanto Kurniawan
Laporan: Risna Nur Rahayu (okezone)
()
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0852 seconds (10.55#12.26)