Opini

Pariwisata Indonesia, menyongsong 2014

Rabu,  18 Desember 2013  −  06:48 WIB
Pariwisata Indonesia, menyongsong 2014
AL BUSYRA BASNUR

JUMLAH penduduk dunia yang bepergian terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari satu tempat ke tempat lain di negara yang sama, maupun antar negara. Baik untuk tujuan bisnis atau wisata, maupun gabungan keduanya.

Perkiraan organisasi pariwisata dunia, World Tourism Organization (WTO), setiap tahun sepanjang 2010–2020 tingkat ketibaan turis dunia naik rata-rata 3,8%. Catatan WTO, tahun 2011 kedatangan turis internasional berjumlah 996 juta, sementara tahun 2012 lebih 1,035 miliar. Asia-Pasifik menjadi kawasan yang mengalami pertumbuhan terbesar, yaitu 6,5%. Sementara Asia Tenggara lebih tinggi, yaitu 8,7%.

Indonesia dituntut lebih jeli melihat dan menangkap peluang pasar wisata dunia yang positif itu. Apalagi, pariwisata kita masih berada jauh di bawah negaranegara tetangga di ASEAN. Benar, daya saing wisata Indonesia meningkat dari 81 tahun 2009 menjadi 74 tahun 2011. Namun, Singapura berada jauh di atas, di peringkat 16, Malaysia 32, dan Thailand 42.

Perangi pengangguran
Pariwisata yang mengandalkan keindahan alam, seni, sosial, budaya, dan ekonomi, menyentuh begitu banyak sisi kehidupan masyarakat. Penduduk kota maupun desa, di pantai maupun di gunung, kelompok masyarakat bawah maupun menengah atas, yang berpendidikan rendah maupun tinggi, tidak saja melakukan kegiatan wisata. Mereka banyak juga menggantungkan kehidupan dari sektor pariwisata.

Salah satu ciri umum daerah tujuan wisata di mana pun di dunia adalah rendahnya angka pengangguran. Di Venesia, kota air Italia yang setiap tahun dikunjungi 40 juta wisatawan, pengangguran sekitar 5%, sedangkan Italia secara nasional 12,5%. Di Bali, pengangguran sekitar 2,5%, sementara tingkat nasional sekitar 6%. Penduduk miskin Bali juga tercatat lebih rendah dari tingkat nasional, yaitu sekitar 4,8%. Indonesia punya potensi besar mengurangi penganggurandengan cara mengembangkan lebih baik industri pariwisata di berbagai tempat, daerah dan pulau.

Apabila pengangguran berkurang, ekonomi nasional membaik. Inilah esensi pembangunan pariwisata suatu negara. Dengan begitu, pariwisata menjadi salah satu resep ampuh memerangi kemiskinan. Namun, terjadi kekhawatiran karena data BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan adanya peningkatan pengangguran terbuka tahun ini, dari 5,92% pada Februari menjadi 6,25% pada Agustus.

Menyongsong 2014, perlu kita renung-pikir dan tentu saja kerjakan dengan serius agar pariwisata tidak saja menargetkan peningkatan jumlah kedatangan wisatawan internasional, juga agar pariwisata naik peringkat dari segi sumber penerimaan devisa negara. Sekarang pariwisata berada di peringkat lima, setelah minyak, gas, batu bara, dan kelapa sawit.

Wisata kuliner
Suatu siang akhir minggu lalu, di Bali empat orang turis asing asal Prancis memasuki sebuah rumah makan padang dekat Bandar Udara Ngurah Rai, memesan nasi remas dengan porsi jauh lebih besar dibanding rata-rata orang Indonesia. Setidaknya ada empat jenis lauk di atas piring mereka. Keduanya makan lahap dengan menggunakan jari tangan seperti umumnya orang Indonesia.

Suatu malam akhir minggu lalu, juga di Bali, di sepanjang jalan kecil dekat Pantai Kuta, puluhan wisatawan kulit putih silih berganti masuk-keluar restoran yang menjual berbagai masakan khas Indonesia. Menurut pemilik restoran, wisatawan asing senang sekali makanan Indonesia di restorannya. Itu hanyalah bagian kecil dari pemandangan yang sering ditemukan di berbagai tempat tujuan wisata Indonesia. Tidak hanya di Bali.

Di berbagai kota lain tujuan wisata seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Palembang, Bukittinggi, Medan, Manado, banyak wisatawan asing mencari makanan Indonesia. Sementara itu di berbagai negara di dunia terutama di Amerika dan Eropa, banyak orang setempat mendatangi perwakilan RI, kedutaan besar dan konsulat jenderal untuk mendapatkan masakan Indonesia.

Pasalnya, perwakilan RI di luar negeri sering pula berperan sebagai “etalase” kuliner Indonesia, utamanya setiap penyelenggaraan kegiatan yang menghadirkan pejabat dan masyarakat setempat. Itulah beberapa potret yang menunjukkan kuliner Indonesia sangat disukai masyarakat dunia. Tahun 2014, kuliner Indonesia diyakini menjadi salah satu andalan wisata Indonesia. Apalagi, pemerintah saat ini tengah merampungkan naskah Instruksi Presiden (Inpres) tentang kuliner yang akan diberlakukan mulai 2014.

Dengan Inpres, masing-masing instansi pemerintah di pusat dan daerah dapat melakukan tugas lebih jelas dan terkoordinasi lebih baik. Optimisme ini cukup beralasan, karena kian banyak penduduk dunia yang ingin mencicipi makanan setempat di saat mereka melakukan perjalanan wisata maupun bisnis. Apalagi, kuliner Indonesia sangat beragam, berasal dari berbagai daerah dan “setiap orang harus makan”, kata Erik Wolf, CEO World Food Travel, mengomentari pentingnya wisata kuliner bagi suatu negara.

Tahun demokrasi
Pariwisata Indonesia tahun depan akan lebih vibrant, namun juga penuh pertaruhan, mengingat 2014 adalah tahun pesta demokrasi Indonesia. Anggota legislatif akan dipilih 9 April, sementara presiden dan wakil presiden 9 Juli dilanjutkan dengan pelantikan. Indonesia tentunya akan sangat sibuk di sepanjang tahun itu, sekaligus menjadi negara yang penting dikunjungi wisatawan maupun para pengamat dan pencinta demokrasi. Pasalnya, sejarah dan perkembangan demokrasi Indonesia sangat menarik bagi masyarakat dunia.

Dalam tempo 15 tahun, usia demokrasi yang sangat muda itu, Indonesia menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Karena itu, bisa jadi jumlah kedatangan wisatawan asing lebih banyak dari target pemerintah, 9,5–10 juta orang. Sebaliknya, target itu bisa pula sulit dicapai apabila pesta demokrasi tidak berjalan lancar dan aman.

Dalam pelaksanaan pemilihan umum di negara apapun di dunia, faktor keamanan domestik dan stabilitas politik menjadi sangat penting yang harus dijaga sangat hati-hati mengingat suasana politik cenderung memanas. Menjaga keamanan dan stabilitas politik, terutama di saat pemilu, tentu menjadi tugas semua orang. Tidak hanya pemerintah dengan seluruh perangkatnya. Diperlukan sinergi yang lebih erat di kalangan pemerintah, swasta, dan masyarakat.

AL BUSYRA BASNUR
Pengamat Internasional




(nfl)

views: 1.119x

 

shadow