Hukum

Percakapan Bunda Putri, Ridwan & Luthfi, muncul Dipo

Jum'at,  30 Agustus 2013  −  13:33 WIB
Percakapan Bunda Putri, Ridwan & Luthfi, muncul Dipo
Ridwan Hakim, (SINDOphoto).

Sindonews.com - Kasus pengurusan kuota impor daging sapi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) di Kementerian Pertanian (Kementan) dengan tersangka Ahmad Fathanah dan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq, diduga mulai menyenggol Istana.

Bahkan, Ridwan Hakim, putra Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin, turut menyebut Sengman yang diduga utusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat bersaksi untuk terdakwa Ahmad Fathanah di Pengadilan Tipikor, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis 29 Agustus 2013.

Sosok lain yang muncul di sidang adalah perempuan misterius bernama Bunda Putri. Mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq menyebutkan, Bunda Putri punya peran penting. Saat diperdengarkan dipersidangan, tersingkap rekaman pembicaraan antara Luthfi Hasan dan Ridwan Hakim ini, turut muncul nama Dipo dan Mas Boed.

Berikut adalah transkrip percakapan antara Ridwan Hakim dengan Luthfi Hasan yang sempat disela oleh Bunda Putri di tengah-tengah obrolan. Rekaman itu dibuka majelis hakim untuk materi persidangan kemarin.

Luthfi: Masih di kompleks DPR.
Ridwan: di rumah Bunda, Bunda marah-marah.

Luthfi: katanya waktu di lembang, saya langsung telepon, kata Bunda jangan diberitahukan dulu. Saya takut terlambat, makanya saya telepon langsung. Karena bakal disepakati sebentar lagi. Supaya jangan terlambat diberi tahunya. Saya tak perlu kasih tahu dulu. Karena setahu saya prosesnya masih jauh.

Ridwan: Tadi malam menteri di sini, sampai jam 1 pagi, katanya. Pernyataannya kan hari Jumat, malam Jumatnya dia di sini. Sambil ngomongin rapat.

Luthfi: Kalau begitu, begini saja, nanti kita coba dua arah. Siapa yang terbaiknya, Widhinya yang kita pegang 100 persen, biar satu komando.

Ridwan: Bentar Bunda mau bicara dulu.

Bunda Putri: Assalamualaikum, ustaz.

Luthfi: Bunda, saya minta maaf baru bangun tidur.

Bunda Putri: Bunda juga baru pulang jam 8, karena bosan di rumah sakit dari hari Jumat, pengen merokok. Ini lagi ngobrol sama Iwan (sapaan Ridwan). Kalau bangun. Bakbuk-bakbuk, jangan Senen. Kalau bangun. Iwan bisa cover zakat di Istana. Jangankan orang dekat siapa nanti. Ini alternatif saja hilang.

Luthfi: Waktu itu di depan bunda, memberi tahu segera. Karena prosesnya sudah panjang supaya dihentikan prosesnya untuk memperjuangkan yang namanya ... Udah hentikan nanti sampai arah yang...

Bunda Putri: ...Itu kan sahabatnya si Manyun.

Luthfi: Siapa, si Widhi itu?

Bunda Putri: Iya, orang dari DPD, kalau dari DPP sih enggak apa-apa?

Luthfi: Mungkin begini, memang mereka berbicara soal itu. Dia nanya yang tidak ada alternatif untuk gantikan yang lama itu. ... Langsung saya telepon

Bunda Putri: Itu 31 itu. Sekarang saya bilang ke Iwan, Bunda tak akan lagi bicara pada Pak Haji Susu, Bunda tidak akan negor lagi, tidak akan minta lagi, kalau sampai, harusnya kan hari ini, Fathan sudah duduk. Menurut Pak Haji. Kalau sampai ia dikabulkan, Bunda berhenti semuanya. Wan, Bunda tak mau dimainin. Apa yang Pak Haji Susu minta sama Bunda, bilang Pak Lurah kembali, semua Bunda kembali, masa Bunda seorang Fathan, Bunda dikhianati.

Kalau Fathannya sudah... Kita yang butuh dia. Sudah jangan bicara lagi Wan, Bunda capek.

Luthfi: Kita sudah... Saya khawatir mereka jalan terus.

Bunda Putri: Sampai diantar ke pintu jam 1 malam. Bunda bilang jangan dikasih alternatif, nanti alternatifnya yang dibesarin. Besok tidak ada namanya Fathan.

Luthfi: Saya tadi pagi ketemu sama dia, sama menteri-menteri lain.

Bunda Putri: Sekarang ini, Bunda ini jam 10 ditunggu Dipo kan? Sebelum dia ke JCC. Katanya kan, Bun jadi nanti kita ketemu sama Mas Boed jam 2.45. Enggak, Bunda di Grand Hyyat saja, supaya tidak ke mana-mana.

Nah kalau sudah begini, malas kita urusin TPA-nya. Nanti kalau Maret ada reshuffle, ya sudah saja, nanti saya ngomong sama Pak Lurah benar apa yang kamu bilang tentang Haji Susu itu, sudah babat saja. Bunda gituin saja, aman. Bunda disuruh ngurus beliau emang di atas satu orang, ini diatasnya Fatan.

Luthfi: Bukan, maksud saya, dia kan decision maker. Bunda kan mengkondisikan para dicision maker. Kerjaan lebih berat mengkondisikan pada decision maker dari pada yang pengambil keputusan sendiri.

Bunda Putri: jadi kalau si Fatan itu kita minta tempatkan atau kita barter dengan Dirjen, itu masih beratlah. Ini cuma untuk pintu masuk. Beratnya di mana? Dan Bunda kan enggak ngerti. Untuk satu ini saja deh, entar juga penuh, ngapain di atas Bunda tidak kenal orang. Kenapa Bunda harus milih, karena Bunda tahu kapasitas orang ini. Kalau tidak tahu, wah tidak berani kita mau ngejodoh-jodohin orang. Ini dunia akhirat Bunda, tidak berani.

(Kembali pada perbincangan Luthfi Hasan Ishaaq dan Ridwan Hakim)

Luthfi: Siapa pun yang di prospek pasti marah besar Bunda, itu gimana ceritanya kok bisa begitu dia.

Ridwan: Saya tidak faham, yang jelas Bunda keki beneran.

Luthfi: Siapa pun yang di posisi dia pasti akan marah besar.

Luthfi: Dia kan decision maker, itu otoritas dia. Sementara yang diminta dia bukan otoritas Bunda. Bunda hanya mengkondisikan orang-orang pengambil keputusan agar keputusannya sesuai apa yang dia mau. Dan lebih berat pekerjaan dia dari pada pekerjaan menteri. Yang menentukan ya kewenangan dia sendiri.

Ridwan: Iya ini sampai dibatalin, harusnya selesai hari ini sama Dipo

Luthfi: Ya Allah, siapa pun yang dibilang pasti akan .... Tidak menentukan hasil .... Tapi prosesnya ini sudah jalan. Kamu ngapain bawa Dipo?

Pokoknya kita atur belakangan. Dan kita sudah sepakat. Coba nanti telusuri apa dan bagaimana. Nanti penggantinya ini kita brain washing.

Ridwan: Nanti kita coba.

Sementara itu, Sefti Sanustika, istri terdakwa Ahmad Fathanah saat diminta keterangan terkait sosok Bunda Putri, di Gedung KPK, Jumat (30/8/2013), mengaku tidak mengenal sosok misterius yang ada dalam percakapan Ridwan Hakim dan Luthfi Hasan.

"Bunda Putri? Siapa Bunda Putri?" tanya Sefti lagi.


(maf)

views: 1.635x

 

shadow