Sosial & Budaya

Indonesia jadi contoh pemberantasan buta aksara

Rabu,  21 Agustus 2013  −  01:15 WIB
Indonesia jadi contoh pemberantasan buta aksara
Buta aksara

Sindonews.com - UNESCO Instutite for Lifelong Learning (UIL), menjadikan Indonesia sebagai panutan (role model) pemberantasan tuna aksara. Indonesia berhasil menuntaskan target pemberantasan tuna aksara lebih cepat.

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadie mengatakan, pada 2012 pihaknya mendapatkan Penghargaan Aksara King Sejong dari UNESCO.

Indonesia mendapat gelar kehormatan ini karena target penyandang buta aksara sebesar 7,5 juta orang pada tahun 2015, sudah dapat dituntaskan pada tahun 2010. Bahkan, pada tahun 2011, jumlah buta aksara sudah berkurang menjadi 6,7 juta orang.

“Penghargaan ini tidak menjadikan kami berhenti bekerja. Tetapi kami terus menekan angka buta aksara di Indonesia,” katanya pada Forum Kebijakan Internasional Pendidikan Keaksaraan dan Kecakapan Hidup Bagi Remaja melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Jakarta, Selasa (20/8/2013).
 
Lydia memaparkan, program pemberantasan tuna aksara selain mengajarkan bahasa Indonesia secara konvensional juga memberikan keaksaraan fungsional.

Keaksaraan fungsional ini yakni memberikan modal usaha mandiri, sehingga penyandang tuna aksara dewasa dapat mempraktekkan pengetahuan yang didapat melalui usahanya sendiri.

Pemerintah juga membuat Koran Ibu, agar para ibu dapat menulis dengan baik di setiap daerah.


(stb)

views: 1.866x

 

shadow