Opini

Lunturnya watak Pancasila

Sabtu,  1 Juni 2013  −  07:04 WIB
Lunturnya watak Pancasila
dok Koran Sindo
Lima belas tahun yang lalu, Mei 1998. Gerakan mahasiswa bersama-sama rakyat berhasil meruntuhkan rezim despotik Orde Baru dengan sebuah harapan besar: bangsa ini akan lebih maju, berperadaban, demokratis, dan sejahtera.

Pembenahan institusi kenegaraan tampak telah terjadi di sana-sini, tetapi catatan-catatan merah masih saja menghiasi. Korupsi masih menjadi musuh nomor wahid sebagaimana dilansir Bidang Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kemendagri: selama kurun waktu 2004–2012 terdapat 173 kepala daerah yang terseret kasus korupsi. Gejolak anarkisme juga belum mereda, lembaga-lembaga politis pengambil kebijakan makin oligarkis, masyarakat semakin apatis dan individualis, media makin terseret kepentingan pemilik modal, keteladanan pemimpin seolah hilang.

Republik benar-benar kehilangan integritas. Melihat fakta seperti ini, kita bisa rasakan seolah bangsa ini seperti kehilangan panduan. Bergerak sesuai dengan embusan arah angin. Tak ada kompas, tak ada pemandu. Pancasila sebagai batang tubuh arah bangsa seakan dilupakan.

Bahkan parahnya, indoktrinasi nilai-nilai agung Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara kepada generasi penerus makin luntur seiring dengan konversi mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di seluruh jenjang pendidikan dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Perubahan ini menimbulkan konsekuensi logis ditinggalkannya pengajaran tentang arti penting nilai-nilai Pancasila secara lebih mendalam. Padahal Pancasila merupakan nilai-nilai yang memuat konsep bermusyawarah, gotong royong, toleransi beragama, serta kerukunan hidup yang merupakan identitas dari eksistensi bangsa Indonesia.

Nilai-nilai dalam Pancasila sangat dibutuhkan bangsa dalam menjaga keutuhan bangsa yang majemuk ini dan mestinya menjadi sarana untuk penanaman dan pembentukan karakter anak bangsa tentang nasionalisme, patriotisme maupun cinta akan Tanah Air.

Penghapusan ini tentu akan membawa dampak yang luas bagi pemahaman siswa mengenai nilai-nilai kebangsaan yang sebetulnya banyak termuat dalam mata pelajaran PPKn.

Efek masa depan yang kita rasakan nanti akan melunturkan semangat kebangsaan, kecintaan terhadap bangsa, kepedulian sosial, tenggang rasa, dan toleransi sesama anak bangsa. Memudarnya pemahaman pelajar terhadap nilai-nilai dasar Pancasila akan membuat generasi muda kita mudah terperosok pada sikap-sikap chauvinistik, tidak mengakui NKRI, tidak taat hukum yang berdampak bagi integrasi bangsa.

Pegangan Arah Bangsa

Soekarno menegaskan urgensi Pancasila bagi bangsa Indonesia. Ia menyebut, ”Pancasila adalah satu weltanschauung, satu dasar falsafah, Pancasila adalah satu alat pemersatu yang saya yakin seyakin-yakinnya bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke hanyalah dapat bersatu di atas dasar Pancasila itu.


Selanjutnya...
dibaca 3.838x
Halaman 1 dari 3
Bagikan artikel ini :
Daftarkan email anda
untuk update berita terkini
Subscribe

 

shadow