ISNU: Rumuskan kepemimpinan dan kemandirian bangsa

ISNU Rumuskan kepemimpinan dan kemandirian bangsa
Lambang ISNU.
A+ A-
Sindonews.com - Kondisi bangsa dan negara dewasa ini harus diakui masih jauh dari cita-cita nasional sebagaimana didambakan para founding fathers. Reformasi diakui telah menghasilkan dan meletakkan fondasi penting untuk perbaikan tata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara seperti pelembagaan demokrasi, reformasi hukum, dan peningkatan taraf kesejahteraan ekonomi.

Namun ada catatan penting yang layak dikemukakan sebagai potret buram arah perjalanan bangsa dan negara dewasa ini.

Catatan penting ini dikemukan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), dalam rilisnya, Rabu (27/2/2013).

Pertama, reformasi memang telah menghasilkan kemajuan demokratisasi politik yang ditandai dengan menjamurnya partai politik, penyelenggaraan pemilu dan pemilukada secara langsung, penguatan kewenangan parlemen, serta demokratisasi lokal melalui otononi daerah.

Namun, pelembagaan demokrasi di Indonesia telah menghasilkan demokrasi biaya tinggi, yang menyeret politik ke arah transaksi yang didikte kekuatan modal dan uang. Partai politik menjadi instrumen perburuan rente untuk mengeruk sumber-sumber keuangan negara.

Parlemen menjadi ajang transaksi kebijakan melalui proses legislasi yang memunggungi jiwa konstitusi. Perhelatan pemilu dan pemilukada berongkos besar yang meriskir rakyat dengan korupsi dari setiap pelaku politik yang orientasinya adalah balik modal dari jabatan yang diperoleh dengan cara habis-habisan. Otonomi daerah menjelma menjadi lahan “perayaan” para kepala daerah dan elit-elit lokal, yang tak berkorelasi dan membuahkan kesejahteraan rakyat daerah.

Insiden berdarah Papua baru-baru ini adalah refleksi pelaksanaan otonomi daerah yang belum menghasilkan karya nyata kesejahteraan warga daerah. Otonomi daerah hanya menggemukkan segelintir elit di lingkaran kekuasaan. Sementara rakyat mengais sisa-sisa dari dana transfer DAU dan DAK.

Kedua, hukum di Indonesia masih bermasalah baik di tingkat struktur, substansi, maupun kultur. Di tingkat struktur, Indonesia belum mempunyai institusi penegak hukum yang berwibawa dengan banyaknya kasus mafia peradilan dan korupsi yang melibatkan oknum-oknum kepolisian, kejaksaan, hakim, dan pengacara.

"Banyaknya aparat penegak hukum yang terbelit dengan persoalan hukum membuat kepercayaan masyarakat kepada lembaga-lembaga hukum dan aparaturnya berada di titik nadir," seperti ditulis dalam rilis.

Di tingkat substansi, banyak produk hukum dan perundang-undangan yang dibuat dengan mengingkari dasar, semangat, dan filosofi bernegara sebagaimana termuat dalam pembukaan UUD 1945. Akibatnya, banyak sekali produk perundang-undangan yang dimintakan uji materi (judicial review) ke Mahkamah Konstitusi.

Sejak 2003 hingga Juli 2012, MK telah menerima permohonan uji materi sebanyak 460 Undang-Undang, 138 di antaranya (27 persen) dibatalkan oleh MK. "Hal ini menunjukkan rendahnya substansi peraturan yang dibuat akibat praktik jual beli kepentingan."

Di tingkat budaya, hukum gagal mendapat tempat dalam kerangka budaya masyarakat karena hukum dibuat berbeda dengan aspirasi mereka. Hukum dibuat sebagai peraturan untuk dilanggar karena kualitasnya rendah dan penegakannya lemah. Hukum gagal menjadi instrumen tertib sosial karena tumpul ke atas tajam ke bawah.

Ketiga, ekonomi Indonesia memang bertumbuh di tengah lesunya perekonomian dunia saat ini. Indikator-indikator makro ekonomi membukukan noktah positif. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia kurang bisa dibanggakan karena kualitasnya rendah.

Pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh sektor non-tradable yang bersifat padat modal yang rendah daya serapnya terhadap tenaga kerja.

Akibatnya, pertama, kemiskinan dan pengangguran masih tinggi di tengah pertumbuhan ekonomi. Kualitas pertumbuhan ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran terus menurun.

Tahun 2010, pertumbuhan ekonomi mampu mengentaskan 1,5 juta orang miskin dari jurang kemiskinan. Tahun 2011 turun menjadi 1 juta dan tahun 2012 merosot menjadi 890 ribu.


Selanjutnya...
dibaca 1.841x
Halaman 1 dari 2

REKOMENDASI :

Top