Opini

Sistem pembayaran APEC

Senin,  4 Februari 2013  −  07:58 WIB
Sistem pembayaran APEC
dok.Koran Sindo
Pertemuan APEC tahun ini dipastikan tidak akan membahas pentingnya sistem pembayaran di masa depan bagi anggota APEC itu sendiri. Sementara APEC juga dikepung oleh berbagai kerja sama perdagangan bebas yang sifatnya regional hingga bilateral.

Eksistensi APEC semakin terdesak. Apalagi hingga saat ini, resesi perekonomian masih mendera dua motor perekonomian APEC yaitu Amerika Serikat dan Jepang. China diperkirakan secara sistematis juga akan terus mengalami koreksi pertumbuhan ekonomi beberapa tahun ke depan.

Quantitative easing yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat mungkin masih akan berlangsung hingga dua tahun ke depan, sementara Bank Sentral Jepang juga akan melakukan langkah serupa dengan mendukung program stimulus fiskal.

Bank sentral negara-negara maju semakin menjauhi dogma sebagai bank sentral yang independen. Suatu langkah positif untuk menghalau hantu deflasi yang bakal menghantui dunia. Kekuatan Amerika Serikat dan China berdasarkan model Gravity diperkirakan akan tetap dan semakin dominan dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan demikian, alangkah sayangnya jika APEC tidak membahas model sistem pembayaran yang ideal bagi APEC dalam rangka menciptakan sinergi dua kekuatan raksasa dunia tersebut. Langkah China untuk melakukan internasionalisasi yuan merupakan kecenderungan yang tidak akan mampu dihindarkan lagi di masa depan.

Pasar yuan akan merambah ke negara anggota APEC lainnya. Dengan demikian, seharusnya APEC segera menciptakan lembaga pencipta pasar bagi suksesnya internasionalisasi yuan.

Namun, hal ini sangat tergantung dari kerja sama yang akan dilakukan oleh China sendiri, termasuk sejauh mana mereka akan melakukan liberalisasi pasar keuangan mereka. Sistem pembayaran yang canggih, transparan dan efisien hanya akan tercipta jika semua negara anggota APEC berada pada tahap liberalisasi pasar keuangan yang secara relatif sama.

Artinya negara seperti Indonesia yang tidak memiliki capital control harus mulai menerapkan capital controlseperti yang diterapkan oleh China, sehingga China nantinya melakukan liberalisasi pasar modal mereka.

IMF juga mulai menyetujui langkah-langkah negara berkembang untuk melakukan kontrol modal keluar. Dengan demikian, APEC tidak boleh menjadi organisasi banci yang memiliki sistem ekonomi yang mendua dan berbeda. Harmonisasi tidak hanya dalam konteks tarif tetapi juga nontarif seperti sistem pembayaran. Negara berkembang di dalam APEC akan memiliki kecenderungan untuk memiliki sistem pembayaran yang berbeda-beda jika APEC tidak memiliki road map-nya sendiri.

Konsekuensinya, di masa depan negara berkembang anggota APEC boleh jadi memiliki kesamaan sistem dengan negara-negara dalam Uni Eropa. Dan jika itu yang terjadi, relevansi pentingnya APEC di Asia dan Pasifik menjadi semakin tidak relevan lagi.


Selanjutnya...
dibaca 956x
Halaman 1 dari 2
Bagikan artikel ini :
Topic Terkait :
opini
Berita Rekomendasi :
Daftarkan email anda
untuk update berita terkini
Subscribe

 

shadow