Opini

Parpol peserta pemilu

Rabu,  16 Januari 2013  −  08:16 WIB
Parpol peserta pemilu
Saldi Isra. (Dok. Sindo)

Lewat tengah malam, Senin (7/1),rapat pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) berhasil menetapkan 10 partai politik (parpol) peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2014.

Sebagai salah satu tahapan penting,hasil verifikasi faktual KPU tersebut “berhasil” mengurangi secara signifikan jumlah parpol peserta pemilu yang akan bertarung memperebutkan kursi DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/ kota. Dengan penetapan itu, dari semua calon peserta Pemilu 2014 yang diverifikasi KPU, 24 parpol gagal memenuhi syarat menjadi peserta Pemilu 2014. Excellent! Itulah di antara komentar sejumlah pihak yang memuji keberanian KPU menerapkan secara ketat syarat bagi parpol sebagai peserta Pemilu 2014.

Meski peserta pemilu itu masih mungkin bertambah, dari segi jumlah, 10 parpol yang dinyatakan lolos akan menjadi jumlah terkecil sejak Pemilu 1999. Bahkan, jumlah peserta Pemilu 2014 hanya menambah satu dari peserta Pemilu 2009 yang berhasil memenuhi parliamentary threshold di DPR. Sejauh ini beberapa parpol memang keberatan dengan hasil penetapan KPU.Namun,keberatan yang diajukan tidak menghentikan KPU untuk melangkah dan bergerak lebih jauh.

Buktinya,hanya berjarak sepekan setelah penetapan, Senin (14/1), KPU mengundi nomor urut parpol peserta Pemilu 2014.Atas hasil pengundian sebagian publik merasakan bahwa penyelenggaraan Pemilu 2014 akan jauh lebih “sederhana” dibandingkan pemilu sebelumnya. Lalu, pertanyaan mendasar yang patut diajukan: langkah apakah yang seharusnya dilakukan supaya proses pemilu menjadi lebih berkualitas?

Tidak hanya demi kebutuhan pemilu yang berkualitas, pertanyaan ini menjadi semacam kebutuhan mendesak di tengah krisis kepercayaan kepada sejumlah parpol di DPR/DPRD. Bagaimanapun,langkah menghasilkan penghuni lembaga legislatif yang benar-benar menjadi representasi rakyat harus dimulai sejak tahap-tahap awal menuju pemilu.

Impian menghadirkan anggota lembaga perwakilan yang benar-benar merepresentasikan rakyat, bagaimanapun, tidak akan mungkin terwujud apabila parpol gagal didorong melakukan perubahan paradigma sejak awal. Perubahan paradigma itu diperlukan untuk kembali menempatkan parpol sebagai salah satu pilar utama kehidupan demokrasi dalam sistem politik di negeri ini.

Elaborasi posisi parpol sebagai salah satu pilar utama kehidupan demokrasi hanya mungkin dibangun dan didesakkan pada saat menjelang penyelenggaraan pemilu. Merujuk pengalaman selama ini, biasanya, parpol jauh lebih akomodatif menjelang pemilu dibandingkan waktu-waktu lain. Karena itu, desakan guna mendorong parpol mengubah paradigma menemukan waktunya saat ini.

Perubahan Paradigma


Selanjutnya...

views: 1.649x
Halaman 1 dari 3
Bagikan artikel ini :

 

shadow