Politik

Profil Partai Keadilan Sejahtera

Sabtu,  12 Januari 2013  −  07:31 WIB
Profil Partai Keadilan Sejahtera
Ilustrasi
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berdiri pada 20 Juli 1998 dengan nama awal Partai Keadilan (disingkat PK) dalam sebuah konferensi pers di Aula Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta. Presiden (ketua) pertama partai ini adalah Nurmahmudi Isma'il.

Pada 20 Oktober 1999, PK menerima tawaran kursi kementerian Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) dalam kabinet pemerintahan KH Abdurrahman Wahid. Nurmahmudi Isma'il pun ditunjuk untuk mengisi posisi tersebut.

Nurmahmudi kemudian mengundurkan diri sebagai presiden partai dan digantikan oleh Hidayat Nur Wahid yang terpilih pada 21 Mei 2000. Pada 3 Agustus 2000, delapan partai Islam yakni PPP, PBB, PK, Masyumi, PKU, PNU, PUI, PSII 1905 menggelar acara sarasehan dan silaturahmi partai-partai Islam di Masjid Al-Azhar dan meminta Piagam Jakarta masuk dalam Amandemen UUD 1945.

Pada Pemilu 1999, PK hanya berhasil mengumpulkan 1,4 juta suara pemilih. Meski perolehan ini mengantarkan PK memperoleh 7 kursi di DPR, PK tetap harus bersalin baju karena total suaranya tak mencapai batas electoral treshold (ET) 2 persen.
 
Akibat UU Pemilu Nomor 3 Tahun 1999 tentang syarat berlakunya batas minimum keikut sertaan parpol pada pemilu selanjutnya (electoral threshold) dua persen, maka PK harus merubah namanya untuk dapat ikut kembali di Pemilu berikutnya.

Pada 2 Juli 2003, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyelesaikan seluruh proses verifikasi Departemen Kehakiman dan HAM (Depkehham) di tingkat Dewan Pimpinan Wilayah (setingkat Propinsi) dan Dewan Pimpinan Daerah (setingkat Kabupaten/Kota).

Sehari kemudian, PK bergabung dengan PKS dan dengan penggabungan ini, seluruh hak milik PK menjadi milik PKS, termasuk anggota dewan dan para kadernya. Dengan penggabungan ini maka PK (Partai Keadilan) resmi berubah nama menjadi PKS (Partai Keadilan Sejahtera).

Setelah Pemilu 2004, Hidayat Nur Wahid (Presiden PKS yang sedang menjabat) kemudian terpilih sebagai ketua MPR masa bakti 2004-2009 dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden PKS.

Pada Sidang Majelis Syuro I PKS pada 26 - 29 Mei 2005 di Jakarta, Tifatul Sembiring terpilih menjadi Presiden PK Sejahtera periode 2005-2010. Seperti Nurmahmudi Isma'il dan Hidayat Nur Wahid, disaat Tifatul Sembiring dipercaya oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai menteri komunikasi dan informatika (Menkominfo).

Maka estafet kepemimpinan pun berpindah ke Luthfi Hasan Ishaq sebagai pjs Presiden PKS. Pada Sidang Majelis Syuro PKS II pada 16 - 20 Juni 2010 di Jakarta, Luthfi Hasan Ishaq terpilih menjadi Presiden PKS periode 2010-2015.

PKS mengusung visi umum sebagai partai dakwah penegak keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai persatuan ummat dan bangsa. Sementara, visi khususnya adalah partai berpengaruh baik secara kekuatan politik, partisipasi, maupun opini dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang madani.


Selanjutnya...
dibaca 7.657x
Halaman 1 dari 5
Bagikan artikel ini :
Daftarkan email anda
untuk update berita terkini
Subscribe

 

shadow