Tajuk Sindo

Jadwal baru perdagangan BEI

Kamis,  27 Desember 2012  −  11:35 WIB
Jadwal baru perdagangan BEI
Bursa Efek Indonesia.

TAHUN baru aturan baru. Menandai awal tahun 2013, perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dipastikan menggunakan jadwal baru. Perubahan jadwal perdagangan tersebut sebagai langkah menyelaraskan waktu dengan bursa regional.

Kebijakan perubahan waktu perdagangan di lantai bursa itu juga sebagai pertanda bahwa BEI kini di bawah payung otoritas jasa keuangan (OJK). Banyak hal yang sudah dipersiapkan OJK untuk mengantarkan BEI sebagai pasar saham yang disegani di kawasan Asia. Jadi, pada 2 Januari tahun depan, perdagangan di BEI akan dibuka lebih awal dari biasanya.

Berdasarkan publikasi dari manajemen BEI, jadwal perdagangan ditetapkan untuk sesi prapembukaan di pasar reguler dimulai pukul 08.45 hingga 08.55 WIB dari sebelumnya pukul 09.10 sampai dengan 09.25 WIB. Adapun jadwal pada sesi pertama di pasar reguler, tunai, dan negosiasi dimajukan sekitar 30 menit menjadi pukul 09.00 WIB.

Sementara itu, jadwal penutupan perdagangan pada sesi kedua berubah menjadi pukul 15.49, dari sebelumnya 16.00 WIB. Untuk jadwal baru tersebut juga dilengkapi dengan sesi prapenutupan pada pukul 15.50 hingga 16.00 WIB dan sesi pascapenutupan di pasar reguler selama 10 menit dari pukul 16.05 hingga 16.15 WIB serta tambahan lainnya adalah sesi kedua di pasar negosiasi yang berakhir pada pukul 16.15. Perubahan jadwal perdagangan tersebut baru merupakan langkah pembuka untuk menyesuaikan diri dengan aktivitas bursa regional.

Langkah penting berikutnya bagaimana meningkatkan daya saing BEI terhadap bursa saham di kawasan ASEAN. Meski belakangan ini perkembangan dan pertumbuhan BEI cukup melesat, hal itu belum mampu menandingi bursa saham sejumlah negara ASEAN. Untuk tantangan yang datang dari luar adalah bagaimana mengantisipasi integrasi perekonomian negara ASEAN atau yang lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang ditargetkan mulai berlaku paling lambat pada akhir tahun 2015 mendatang.

Untuk integrasi di bidang ekonomi yang mencakup wilayah pasar saham, ada kekhawatiran BEI dengan daya saing masih rendah bakal kalah bersaing dengan bursa lainnya. Masih ada waktu dua tahun untuk berbenah baik dari sisi perusahaan efek, emiten maupun regulasi yang bersahabat dengan investor. Adapun persoalan internal meliputi berbagai aspek.

Salah satu masalah serius yang butuh pembenahan segera adalah bagaimana mengatasi minimnya sumber daya manusia (SDM). Kekurangan SDM di pasar modal menjadi kegelisahan tersendiri Direktur Utama BEI Ito Warsito karena hal itu akan menjadi kendala besar. Diakui, pertumbuhan pasar modal sejak 2008 memang cukup menggembirakan, tetapi tidak dibarengi ketersediaan SDM yang memadai.

Indikator minimnya jumlah SDM tersebut bisa dimonitor dari sedikitnya masyarakat pemegang lisensi dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam – LK) untuk beraktivitas di industri pasar modal. Selama ini, yang sering muncul di permukaan adalah jumlah investor yang terbatas dibandingkan dengan jumlah penduduk.

Berdasarkan data yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), total investor baru sekitar 360.000 dari 240 juta penduduk. Berdasarkan data BEI, dari sekitar 8.000 orang yang mengantongi lisensi Bapepam-LK yang aktif di industri pasar modal tak sampai 2.500 orang. Ini betul-betul memprihatinkan untuk bersaing di tingkat regional. Belum bicara soal produk investasi yang variatif, kualitas emiten hingga regulasi yang lebih terbuka untuk mendorong industri pasar modal. Karena itu, kita berharap kehadiran OJK akan memberi darah baru dalam pengelolaan industri pasar modal ke depan.


(hyk)

views: 1.325x

 

shadow