Opini

Fenomena politikus instan

Senin,  26 November 2012  −  10:53 WIB
Fenomena politikus instan
Dok.Okezone

Fenomena baju kotak-kotak tidak hanya terasa di Ibu Kota. Penampilan ini ternyata juga muncul di daerah lain. Terdengar informasi yang mengatakan bahwa ada calon kepala daerah lain yang meniru konsep baju kotakkotak/garis-garis untuk menumpang euforia Jokowi.

Sebuah fakta yang menyedihkan apabila memang betul terjadi. Mengapa menyedihkan? Kondisi tersebut berarti menunjukkan bagaimana dangkalnya persepsi sebagian elite dalam memaknai fenomena kemenangan Jokowi-Ahok di Pilkada DKI. Kemenangan mereka lebih diartikan sebagai kemenangan kosmetik politik dibandingkan dengan substansi track record dan program yang mereka miliki.

Branding lebih dititikberatkan pada political look dibandingkan dengan political performance. Dengan kata lain, mereka lebih terpusat pada cara membuat kemasan dibandingkan fokus pada proses pembuatan produk terlebih dahulu. Yang sering terjadi kemudian adalah branding duplication dengan cara meniru gaya komunikasi politik politisi lain yang dianggap sukses dalam pilkada atau pemilu.

Alih-alih bertarung program, para politikus malah menceburkan dirinya dalam pertarungan “narsisme politik”. Para kandidat telah bertransformasi menjadi seorang selebritas demi mencapai suatu citra. Berbeda dengan kalimat “saya berpikir, maka saya ada” oleh Rene Descartes,politisi ini sudah memosisikan dirinya dalam sebuah idiom “saya selebriti, maka saya ada”!

Politainment & budaya pop

Gejala narsisme ini sendiri berjalan linier seiring dengan perkembangan budaya televisi dan digital. Dalam Politics and Popular Culture, Street (1997) melukiskan genre politik ini sebagai a matter of performance. Politik memiliki kaitan yang erat dengan budaya pop. Permainan di depan pemirsa televisi menjadi bentuk seni pertunjukan.

Dalam kondisi ini, citra, kesan, dan penampilan luar adalah segalanya. Ia perlu dikemas agar memikat masyarakat. Panggung politik telah berubah menjadi politainment untuk menciptakan khalayak. Era televisi dan digital ini juga membuka lembaran baru gaya berpolitik seorang politikus. Mereka lebih suka retorika daripada karya dan lebih tertarik pada fashion ketimbang vision.

Hal ini telah mengerucut pada kondisi hiperealitas, realitas yang dikemas dalam media, seperti yang dikemukakan filsuf Prancis Jean Baudrillard. Sebuah keadaan di mana media massa bahkan lebih berkuasa daripada sang penguasa dalam hal menyebarkan pesan dan simbol kepada publik. Dalam situasi seperti itulah kemudian masyarakat harus dihadapkan pada situasi yang tidak berbatas.


Selanjutnya...

views: 1.432x
Halaman 1 dari 3
Bagikan artikel ini :

 

shadow