Sosial & Budaya

Jam pelajar sekolah ditambah

Jum'at,  16 November 2012  −  02:01 WIB
Jam pelajar sekolah ditambah
Dok.Okezone

Sindonews.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memberlakukan penambahan jam pelajaran untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
 
Mendikbud Mohammad Nuh mengatakan, ada perubahan penambahan jam untuk semua jenjang. Untuk SD jumlah jam pelajaran bertambah empat jam perminggu, hal ini akibat perubahan pendekatan pelajaran yang holistik berbasis sains (alam, sosial dan budaya).

"Sedangkan di SMP ada penambahan enam jam perlajaran perminggu, karena mata pelajarannya fokus pada pengembangan diri terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan ekstrakurikuler. Sementara di jenjang SMA penambahannya hanya satu jam perminggu dimana mata pelajarannya akan terbagi antara mata pelajaran wajib dan pilihan," papar Nuh ketika dihubungi, Kamis (15/11/2012).

Sementara untuk permintaan kompetensi keahlian seperti disampaikan Menakertrans, M Nuh menjelaskan, di SMK akan ada penambahan jenis keahlian berdasarkan spektrum kebutuhan yakni ada enam program keahlian, 40 bidang keahlian dan 121 kompetensi keahlian.

Lalu bidang keahlian yang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan global juga akan dihapus dan diganti dengan penambahan Life and Career Skils yang tidak masuk dalam mata pelajaran, perlunya melibatkan pengguna atau industri terkait dalam penyusunan kurikulum.

"Pembelajaran SMK akan berbasis proyek dan sekolah terbuka sehingga ada penambahan jam pelajaran dan adanya keseimbangan antara hard skill dan soft skill dengan kompetensi," imbuhnya.

Sementara itu, pengamat Pendidikan Arief Rahman berpendapat, kurikulum yang ada saat ini belum mendapatkan bentuk yang paling baik sehingga guru-guru sendiri masih bereksperimen dengan kurikulum yang ada itu.

Menurutnya, kurikulum yang baik itu adalah yang sesuai dengan kebutuhan anak namun juga dapat membentuk watak anak dan memberikan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

“Bagaimana mengajarkan mereka tidak hanya untuk hidup namun langkah bersosialisasi. Pembentukan watak moral dan budi pekerti yang tidak hanya berupa pengetahuan namun penyikapan,” ujarnya.

Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco ini juga menyayangkan pengajaran yang sekarang yang hanya sebatas teori sementara untuk prakteknya jarang sekali disentuh.

Oleh karena itu metode pengajaran pada kurikulum yang baru diharapkan diarahkan ke kurikulum berbasis kompetensi dimana basisnya adalah keterampilan yang system pengukurannya ialah pada kemampuan sang siswa itu sendiri akan pengetahuan disetiap jenjangnya.


(lns)

views: 1.203x

 

shadow