Politik

Istana munculkan politik dinasti?

Rabu,  17 Oktober 2012  −  14:25 WIB
Istana munculkan politik dinasti?
SBY.

Sindonews.com - Kalangan Istana dinilai berupaya kembali memunculkan politik dinasti kekuasaannya, kali ini melalui Agus Harimurti Yudhoyono.

Putra sulung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini sempat memberikan pernyataan, bahwa di negara demokrasi, tidak ada istilah dinasti politik. Pasalnya, semua individu memiliki kesempatan berkompetisi dengan kemampuannya masing-masing.

Agus juga menyatakan, dirinya tidak pernah merasa bahwa karena dirinya putra dari pemimpin negara, maka akan dengan mudah bisa menjadi pemimpin. Pernyataan ini dilontarkannya dalam diskusi Forum Garuda Muda, Selasa, 9 Oktober 2012.

Menanggapi pernyataan putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono ini, pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ari Dwipayana mengatakan, pernyataan tersebut sebenarnya merupakan upaya untuk memunculkan kembali wacana politik dinasti dari Presiden SBY.

Kendati demikian, hal ini bisa juga sebagai wacana tanding yang dibangun oleh Istana terkait tudingan politik dinasti SBY.

"Ada upaya untuk kembali mengelola isu itu (politik dinasti). Negara demokrasi memang selalu memunculkan isu politik dinasti. Tapi yang penting harus dilihat proses kemunculannya. Kalau instan dan tidak demokratis, orang muda sekalipun yang muncul dari keluarga penguasa hanya akan menjadi politik instan," ujarnya saat dihubungi Sindonews, Rabu (17/10/2012).

Pihaknya mencontohkan, dinasti SBY sebenarnya sudah bisa dilihat di Partai Demokrat. Putra bungsu SBY, Edhie Baskoro Yudhyoyono (Ibas) yang duduk sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Demokrat menjabat posisi itu bukan melalui kompetisi politik. Pasalnya, Ibas sebelumnya juga belum pernah menduduki posisi sentral di partai.

Dia mengutarakan, jika kemudian Agus Harimurti Yudhoyono muncul sebagai tokoh muda militer yang nantinya dijadikan figur alternatif calon presiden (capres), harus terlebih dahulu melewati berbagai ujian politik di negara ini. Ujian politik itu bisa dilihat dari kemampuan kepemimpinan Agus selama berkarir di militer.

"Apakah dia (Agus) teruji di politik? Kemampuan leadership harus dilihat dulu. Lihat juga track record karir kemiliterannya. Apa dia punya kemampuan memimpin yang baik saat berkarir di militer. Politik instan itu terbangun dari politik asal bapak senang. Itu sebenarnya sering dilakukan oleh tokoh-tokoh petron pengendali partai," pungkasnya.


(kur)

views: 1.976x
Bagikan artikel ini :

 

shadow