Opini

Krisis pangan, krisis regenerasi

Rabu,  17 Oktober 2012  −  08:45 WIB
Krisis pangan, krisis regenerasi
ilustrasi (Foto:Dok Sindonews)

“Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka “malapetaka. Karena itu, perlu usaha secara besar-besaran, radikal,dan revolusioner.” (Ir Soekarno)

Beberapa waktu yang lalu MIT Enterprise Forum merilis hasil analisis atas penelitiannya tentang 10 permasalahan utama manusia yang akan terjadi pada 2050 (Humanity’s Top 10 Problem). Salah satu permasalahan utama dari sepuluh permasalahan terbesar manusia terebut adalah permasalahan mengenai kelangkaan pangan.

MIT Enterprise Forum memprediksi bahwa kelangkaan pangan yang akan terjadi pada 2050 disebabkan setidaknya oleh dua hal, pertama adalah peningkatan jumlah penduduk dunia yang diprediksi akan menembus angka 10 miliar jiwa, dan kedua adalah peningkatan kualitas hidup manusia dunia yang melahirkan tuntutan kualitas pangan yang tersedia. Permasalahan yang disampaikan oleh MIT Enterprise Forum tersebut memang patut dipikirkan oleh seluruh bangsabangsa di dunia tanpa terkecuali.

Pasalnya, sulit dibayangkan jika kelangkaan pangan terjadi saat tuntutan atas produktivitas negara-negara dunia semakin tinggi setiap tahunnya. Karena itu, persoalan ketahanan dan kedaulatan pangan menjadi sebuah hal yang belakangan menjadi topik pembicaraan berbagai konferensi dunia dan konferensi tingkat tinggi, tak terkecuali Indonesia Presiden Soekarno beberapa puluh tahun yang lalu pernah berucap bahwa persoalan penyediaan pangan bagi sebuah bangsa adalah persoalan hidup dan mati.

Dengan kecukupan pangan, Indonesia dapat terus hidup dan meneruskan peradabannya. Sebaliknya, tanpa pangan, Indonesia hanya akan menjadi sejarah dunia. Sebagai sebuah negara berkembang dengan mayoritas penduduk usia muda yang mencapai 70%,Indonesia memiliki potensi besar untuk memperoleh masa depan sebagai bangsa besar. Regenerasi menjadi sebuah proses yang mutlak diperlukan oleh Indonesia.

Pembentukan generasi penerus bangsa melalui pembangunan manusia memiliki kaitan yang erat dengan tingkat gizi yang dimiliki suatu bangsa. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah umumnya memiliki masa depan yang kurang baik. Begitu pula dengan balita yang memiliki gizi buruk. Keduanya akan menghambat proses berkembang dan berpikir anak sehingga perkembangan mereka tidak seperti anak normal seusianya.

Permasalahan yang terjadi pada sebagian besar kasus gizi buruk di dunia disebabkan oleh minimnya kualitas dan kuantitas pangan yang tersedia dan dapat dikonsumsi oleh bayi dan balita. Dalam kasus Indonesia, gizi buruk masih menjadi momok yang masih terus menggerogoti generasi penerus bangsa khususnya di beberapa daerah pelosok dan terpencil. Pada 2011 penderita gizi buruk di Indonesia bahkan mencapai angka 4,9 persen (Bappenas).

Hal ini diperkuat hasil Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. United Nations Development Program (UNDP) mencatat bahwa dari 187 negara di dunia pada 2011, Indonesia mengalami penurunan peringkat dari tahun sebelumnya, dari 108 menjadi 124. Penurunan peringkat salah satunya didasarkan atas status gizi dan kesehatan Indonesia yang semakin menurun.


Selanjutnya...

views: 1.298x
Halaman 1 dari 3
Bagikan artikel ini :

 

shadow