Opini

Korupsi, kapitalisme, dan demokrasi

Kamis,  4 Oktober 2012  −  09:45 WIB
Korupsi kapitalisme dan demokrasi
Ilustrasi (Istimewa)
Sidang pembaca yang budiman, jangan terperanjat membaca ungkapan ini: corruption is bastard sister of capitalism and democracy! Kalimat satirikal ini melukiskan kapitalisme, demokrasi, dan korupsi secara pejoratif dan paradoksal.

Kapitalisme acapkali dicela bahkan dikutuk karena berwatak eksploitatif dan dominatif, namun pesona ideologi ini mampu memikat banyak negara-bangsa di dunia. Mereka menjadikan kapitalisme sebagai basis ideologi untuk memandu dalam mengelola perekonomian negara.

Saksikan, kapitalisme sukses menaklukkan seteru ideologisnya —sosialisme— dan kemudian memaksanya untuk berkiprah di wilayah yang amat terbatas di pojok sejarah dunia.

Kini kapitalisme menjadi pemain dominan dalam derap globalisasi, yang menembus batas negara-bangsa, dan mengukuhkan diri sebagai ideologi ekonomi hegemonik.

Kapitalisme yang telah menjelma menjadi ideologi bergenre baru —neoliberalisme— berhasil menyerap hampir seluruh kekuatan dunia ke dalam suatu aransemen tunggal: ekonomi pasar global.

Seperti kapitalisme bagi bangsa-bangsa di dunia, korupsi bagi bangsa Indonesia juga dihujat dan dikutuk tanpa henti, tapi ia justru kian menggurita yang merambah seluruh lini kehidupan politik nasional.

Secara politik, korupsi telah menjadi epidemi karena ia mengakar kuat di dalam struktur kekuasaan negara, dan birokrasi pemerintahan. Secara sosial, korupsi sudah menjadi patologi akut karena ia telah berkembang menjadi gejala umum yang lazim dijumpai di dalam masyarakat.

Secara kultural, korupsi telah membudaya karena ia berkembang menjadi nilai yang dianut oleh dan mengalami internalisasi, bukan saja di lapisan elite politik, tetapi juga di kalangan warga masyarakat.

Korupsi menggerakkan denyut nadi kehidupan masyarakat, dan menjadi perilaku sosial keseharian. Meskipun publik tanpa kenal lelah menyuarakan kecaman dan kutukan atas praktik korupsi, namun perilaku korup justru kian tak terkendali tanpa ada satu kekuatan pun yang mampu menghentikannya.

Banalitas korupsi sungguh di luar nalar publik untuk dapat mencernanya, terutama ketika korupsi justru kian subur di dalam sistem politik demokrasi.


Selanjutnya...
dibaca 4.295x
Halaman 1 dari 3
Bagikan artikel ini :
Daftarkan email anda
untuk update berita terkini
Subscribe

 

shadow