Opini

Konflik Sunni-Syiah di Madura?

Selasa,  28 Agustus 2012  −  04:33 WIB
Konflik Sunni Syiah di Madura
Korban bentrok di Sampang (foto: Koran Sindo)
PENYERANGAN terhadap penganut Syiah di Sampang, Madura, berakhir dengan duka. Dua orang tewas dan puluhan lainnya terluka. Ironisnya, penyerangan tersebut dilakukan pada saat warga melaksanakan “Lebaran Ketupat”, ritual yang biasa dilaksanakan warga Madura seminggu setelah merayakan Idul Fitri.

Dalam teori konflik dikenal, tidak ada faktor tunggal dalam setiap perseteruan antara satu kelompok dan kelompok lainnya. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan sebuah konflik meletus, baik politik, ekonomi, maupun keyakinan. Sebagaimana dimaklumi, mulanya konflik di Kecamatan Omben tersebut ditengarai dimotivasi perbedaan dalam internal keluarga. Namun dalam perjalanannya, konflik mempunyai horizon yang semakin luas karena perbedaan keyakinan menyusup bahkan dijadikan pemantik dalam konflik mutakhir.

Konflik semakin tidak terkendalikan karena baju keyakinan mulai digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memperkeruh situasi. Puncaknya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, bahkan menteri agama menegaskan, Syiah sebagai aliran sesat, yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Seperti ihwal fatwa sesat terhadap kelompok minoritas lainnya, fatwa tersebut kerap digunakan secara sewenangwenang untuk mengeksklusi, bahkan menebarkan kebencian terhadap warga Syiah. Konsekuensinya, muncul sebuah pandangan bahwa warga penganut Syiah tidak diperkenankan untuk tinggal di Kabupaten Sampang.

Sebab itu, menurut Muhammad Arkoun dalam Al Fikr al-Ushuly wa Istihalat al-Ta’shil, fatwa keagamaan ibarat ujung pisau yang jika tidak hati-hati, dapat digunakan oleh kelompok atau perorangan untuk menebarkan kekerasan. Dalam sejarah Islam, dan bahkan dalam sejarah agama-agama lainnya seperti Yahudi dan Kristen, keyakinan kerap digunakan secara serampangan untuk mempertajam konflik.

Konflik yang terjadi di Sampang seakan membenarkan tesis tersebut. Pada Desember 2011 lalu, sekelompok orang melakukan penyerangan terhadap tempat tinggal dan lembaga pendidikan milik warga penganut Syiah dengan bermodalkan fatwa sesat. Akibatnya, sejumlah rumah rusak dan aktivitas pendidikan warga Syiah terhenti. Mereka bahkan harus diungsikan ke tempat yang aman dan pimpinannya Tajul Muluk diamankan di Malang.

Belakangan ini Tajul Muluk divonis dua tahun penjara karena dianggap bersalah melakukan penistaan agama. Meskipun demikian, kekerasan terhadap warga penganut Syiah bukan mereda, melainkan justru semakin eskalatif. Mereka yang anti-Syiah menghendaki agar penganut Syiah tidak berdomisili di Sampang. Pemerintah Sampang bahkan ditengarai berada di pihak kelompok yang anti- Syiah dengan asumsi mengikuti aspirasi suara mayoritas yang diperkuat oleh vonis terhadap pimpinan Syiah dan fatwa sesat MUI setempat.

Dialog Sunni-Syiah

Penjelasan tersebut membuktikan bahwa konflik telah memasuki ranah yang paling sensitif karena kelompok yang anti-Syiah (Sunni) telah menggunakan paham keagamaan sebagai energi kekerasan. Dalam sejumlah komunikasi saya dengan teman-teman di Sampang hampir secara umum mempunyai kesimpulan yang sama: Syiah sebagai aliran sesat. Tentu saja, pandangan tersebut tidak berhenti di situ, melainkan justru secara implisit membenarkan kekerasan terhadap warga penganut Syiah.

Tidak mudah menemukan pihak yang melakukan pembelaan dan perlindungan terhadap korban.Mereka yang selama ini gigih melakukan pendampingan terhadap Syiah pada umumnya adalah kelompok pro-HAM (hak asasi manusia). Di sini perlu langkah yang cukup serius yang mesti dilakukan oleh kelompok ahlusunah waljamaah, khususnya Nahdlatul Ulama.


Selanjutnya...
dibaca 11.142x
Halaman 1 dari 2
Bagikan artikel ini :
Topic Terkait :
opini
Berita Rekomendasi :
Daftarkan email anda
untuk update berita terkini
Subscribe

 

shadow