alexa snippet

Merdeka tanpa kemakmuran

Merdeka tanpa kemakmuran
Ilustrasi (Istimewa)
A+ A-
Merdeka adalah kebebasan atas penindasan, perbudakan, dan kolonialisme. Kalau makna kemerdekaan adalah berakhirnya sejarah kolonialisme yang ditandai dengan sifat eksploitasi manusia, dimana manusia hanya dijadikan alat produksi semata, kita sekarang belum merdeka seutuhnya.

Kita baru merdeka dalam taraf simbol formal bahwa Indonesia tidak berada di bawah bayang-bayang negara lain, tapi kita belum merdeka dalam arti sesungguhnya. Sebagian besar rakyat kecil masih sering berada di alam pemerasan dan kekerasan oleh elite politik, penguasa, dan pemodal. Alam yang seharusnya diolah demi kemakmuran rakyat nyatanya hanya digunakan untuk kemakmuran sebagian sangat kecil orang.

Refleksi Kemerdekaan

Merefleksikan kemerdekaan yang setiap tahun kita rayakan, penulis mengingat almarhum Romo Mangun. Baginya, kemerdekaan adalah kepedulian untuk terus-menerus memberdayakan manusia agar ia memahami dirinya sendiri sekaligus mengaktualisasikan kreativitasnya demi membangun kemakmuran bangsa dan negara. Gagasan Romo Mangun tersebar dalam berbagai pikiran untuk membebaskan manusia dari belenggu.

Bangsa baginya tidak hanya sebagai kumpulan manusia yang setiap tahun merayakan kemerdekaan. Kemerdekaan bangsa adalah cerminan dari manusia sebagai individu yang otonom. Kenyataannya, meski kita sudah merdeka setengah abad lebih dari penjajah, arti kemerdekaan itu hanya bisa dilekatkan sebagai kemerdekaan secara formal. Itu pun masih harus kita pertanyakan kembali.

Meski kita sudah merdeka, pada hakikatnya kita masih terjajah secara ekonomi. Kemerdekaan sebagai sebuah bangsa secara formal bukanlah cermin kemerdekaan manusia per manusia di dalamnya. Kemerdekaan itu lebih ber-konotasi sebagai kemerdekaan kolektif, formalistis, dan simbolistis. Bukan sebagai kemerdekaan jiwa dan otonomi individu di dalamnya.

Kegelisahan bangsa ini, terutama, adalah karena selama ini menjalankan reformasi setengah hati. Ini disebabkan oleh mentalitas yang setengah-setengah dalam menegakkan keadilan dan hukum. Mentalitas setengah-setengah itu tercermin dalam berbagai keraguan untuk menegakkan hukum dan keadilan.

Hukum dan keadilan kerapkali dikalahkan oleh kekuatan politik dan uang. Hal ini begitu kuat mengendalikan hukum di republik ini.

Dalam konteks pendidikan, ketakutan luar biasa terhadap mereka yang memiliki uang merupakan cermin gagalnya pendidikan di republik ini. Kita belum mampu memproses manusia yang merdeka; mendidik manusia untuk benar-benar menjadi merdeka.

Mereka belum mampu memerdekakan bangsa dan manusia Indonesia dari sikap dan sifatnya yang minder, yang tidak fair, yang digerakkan oleh mentalitas kuli dan babu yang cenderung menjilat ke atas dan menginjak ke bawah, yang tidak setia kepada kawan, mudah mengkhianati dan menjualnya, yang enak dan tega memfitnah dan membunuh nama baik dan kesempatan kawan.

Dari sana kemudian lahir suatu watak yang tidak suka membela kebenaran. Watak ini oleh Romo Mangun (1999) pernah dikatakan sebagai watak “mencari selamat sendiri-sendiri”. Ini bahkan dilakukan melalui pengorbanan orang lain. Mereka lebih suka berbohong dengan dalih menjaga harmoni. Demi semua itu, mereka tak mau bekerja secara fair play, tetapi lebih menyukai menjadi bunglon demi menjaga karier, martabat, dan status. Mentalitas tersebut begitu kuat, dan akibatnya mereka tidak berani mengambil risiko dan berpedoman lebih baik mencari keselamatan diri sendiri saja.

dibaca 2.482x
halaman ke-1 dari 2
loading gif
Top