Makro

Tanda-tanda krisis 2008 mulai terjadi

Dana Aditiasari

Kamis,  22 Agustus 2013  −  17:16 WIB
Tanda-tanda krisis 2008 mulai terjadi
Ilustrasi/Ist

Sindonews.com - Ekonom Standard Chartered, Fauzi Ichsan menilai, saat ini mulai ada tanda-tanda terjadinya krisis ekonomi di Indonesia seperti yang terjadi pada 2008. Dia berharap, Undang-Undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK), segera terbit.

Fauzi menilai reaksi cepat dari Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan dan juga Bank Indonesia akan memberikan dampak besar untuk menghindari gejala krisis kecil yang sudah mulai terlihat berubah menjadi krisis yang sebenarnya.

"Setiap negara akan mengalami krisis kecil maupun krisis besar. Yang penting adalah seberapa efektifnya reaksi pemerintah, OJK dan BI untuk meredam gejala tersebut sehingga krisis bisa dihindari," kata Fauzi di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (22/8/2013).

Namun demikian, lanjut Fauzy, selain cepat, pemerintah juga harus berhati-hati dan berpedoman pada terciptanya keseimbangan finansial. Pasalnya, bila salah langkah, yang terjadi bisa saja gejolak lain dimana tekanan likuiditas akan melanda dunia perbankan.

"Ini dia, misalnya kalau suku bunga dinaikkan akan menimbulkan masalah likuiditas dan akan memukul bank-bank kecil dan menengah. Bank besar mungkin tidak akan bermasalah. Keseimbangan ini yang harus dijaga. Dalam kondisi seperti sekarang, apapun solusi yang akan diambil, tidak akan manis," pungkasnya.

Perlu diketahui, hingga saat ini Undang-Undang (UU) Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) sebagai payung hukum yang menaungi Crisis Management Protocol (CMP), belum disahkan oleh lembaga legislasi Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat.

Padahal saat ini, kondisi nilai tukar mata uang RI sudah terdepresiasi dengan kurs tengah mencapai Rp10.795 dan diperdagangkan di pasar spot sebesar Rp10.875. Dari data yang berhasil dihimpun Sindonews sendiri hari ini rupiah ditutup di level Rp10.945 per USD.

Sementara dari pasar modal sendiri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga betah berkubang di zona merah. Hari ini (22/8/2013), IHSG ditutup melemah 1,11 persen atau 47,04 poin ke posisi 4.171,41.

Defisit transaksi berjalan atau current account Indonesia juga terus melebar menjadi 4,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sebesar USD9,8 miliar pada triwulan II 2013.

 

(gpr)

 

shadow