Opini

Sekilas pengembangan Bandara Soekarno Hatta

Tim Sindonews

Selasa,  18 Juni 2013  −  09:00 WIB
Sekilas pengembangan Bandara Soekarno Hatta
Dino Tribrata

Seiring dengan meningkatnya pergerakan pesawat dan penumpang di Bandar Udara Soekarno Hatta yang sampai dengan tahun 2012 lalu sudah mencapai lebih dari 50jt-an penumpang. Maka PT Angkasa Pura II sebagai pengelola bandara merasakan perlu melakukan revitalisasi dan pengembangan fasilitas dan sarana pra-sarana bagi terciptanya pelayanan yang maksimal bagi pengguna jasa layanan kebandarudaraan.

Bandar Udara Soekarno Hatta sedang dalam pengembangan fasilitas, apron yang sudah sedang dalam masa revitalisasi terminal 1 dan 2, pembangunan terminal 3 dan penambahan cross taxi way, terminal 4 dan runway ke-3, integrated building dan cargo village, adalah merupakan wujud nyata dari PT Angkasa Pura II untuk serius memberikan peningkatan pelayanan yang prima dan berkelas dunia kepada pengguna jasa layanan dimana kapasitas bandara saat ini sudah tidak dapat menampung pergerakan penumpang, pesawat dan kargo sampai dengan pengguna jasa layanan kebandar udaraan dengan maksimal.

Sejauh ini pelayanan Bandara Soekarno Hatta sudah menunjukkan adanya perbaikan dan peningkatan dilihat dari sisi sumber daya manusia (SDM) pengelola bandara, dimana dapat dirasakan untuk area merokok sudah mulai dapat dibatasi dan apabila ada yang merokok bukan pada area merokok akan mendapat teguran. Jasa penggunaan CUTE (common use terminal equipments) juga sudah ada perubahan meskipun terkendala oleh terbatasnya lahan dan bagunan yang sudah ada, sekali lagi effort dari pengelola bandara dirasakan sudah dirasakan adanya perbaikan dalam pelayanan kepada pengguna jasa layanan menuju bandar udara berkelas dunia.

Untuk dapat merasakan dan melakukan perbandingan, sesuai dengan cita-cita PT AP II dalam pelayanan adalah sesuai dengan standard pelayanan bandara kelas dunia, maka kita dapat langsung melakukan perbandingan dengan Changi (Singapore), Swarabumi (Bangkok), dan KLIA (Kuala Lumpur) atau Hongkong  yang juga masih 1 regional dengan Indonesia. Terasa sangat berbeda pelayanan dan fasilitas bandara yang diberikan oleh pengelola bandara di negara-negara tersebut dibanding dengan yang ada di Indonesia pada umumnya.

Secara komprehensif dapat dilihat perbandingannya adalah dalam hal: flow kendaraan keluar masuk dan parkir, flow penumpang, CUTE, komersial area, brand-brand yang ada di bandar udara, penanganan bagasi, aircraft movement, sangatlah jauh berbeda. Tidak semua  merupakan kesalahan dari pengelola bandar udara, namun dapat di generalisasikan bahwa budaya Indonesia pada umumnya masih terlihat ketidak-teraturan dalam segala sisi kehidupan yang mana bandara adalah merupakan cermin budaya sebuah negeri.

Kenapa bandara mereka dapat memberikan pelayanan kelas dunia dengan merek kelas dunia juga ? Pelayanan yang mereka berikan adalah dengan menerapkan sistem mall (pusat perbelanjaan) yang premium pada bandara dengan menggunakan pola sebagai master consessioner. Kenapa mereka melakukan hal tersebut ?

Karena, secara nyata area komersial ini adalah bukan bisnis utama dari sebuah bandar udara namun mempunyai vallue added yang sangat tinggi tanpa mengesampingkan pendapatan. Lahan yang ada dimaksimalkan menjadi sebuah pendapatan yang tinggi tanpa mengabaikan sisi pelayanan dan kenyamanan pengguna jasa layanan. Tarif berjalan seimbang dengan pendapatan juga dengan pelayanan.

Kita ambil contoh, di bandara Changi, dengan mudah dapat kita temukan brand: Hugo Boss, Bally, Louis Vuitton, Prada, Rolex dan lainnya, sangat miris apabila kita melihat bandara kita yang hanya melayani produk-produk kelas 2 dan kelas 3 seperti Polo, Polo dan Polo.

Apabila pengelola bandara harus melakukan investasi disisi komersial dirasa akan menjadi dilema bagi pengelola bandara tersebut dimana ahli dan pengalaman sangat berbeda, begitu juga penanganan usaha yang berbeda dimana ada aspek design, sistem point of sales, pelaporan yang sistematis dan juga birokrasi yang diperlukakan dangat dinamis dan cepat. Lebih baik investasi tersebut dialihkan untuk membuat bandara baru atau melengkapi fasilitas bandara yang sudah ada demi tercapainya pelayanan kebandar-udaraan kelas dunia.

Yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pemilihan partner investor dalam beauty contest ataupun tender adalah Kakap harus diadu dengan Kakap, apple to apple, bukan Kakap dengan Teri, atau apple to manggo. Juga dalam menentukan materi TOR dimana penerapan sistem zoning terhadap pasar domestic dan pasar international juga harus tepat dalam tenants mixing oleh pengelola bandara.

Selain daripada area Integrated Building, Cargo juga menarik untuk dijadikan perhatian. Saingan Jakarta untuk membuat Cargo Village adalah head to head dengan Singapura. Uniknya secara total cost, Singapura lebih mahal berbanding dengan Jakarta, namun karena banyaknya variable cost yang banyak di jakarta menjadikan pengguna jasa layanan lebih tertarik untuk dilayani di Singapura. Bandara Singapura juga menerapkan sistem rebat sebagai gimmick sebesar 20% dari pembayaran pelanggan dalam 1 tahun.

Ada beberapa masukkan kepada pengelola bandara, cost yang tinggi di Singapura dapat dijadikan sebuah opportunity, salah 1 pemain besar cargo, DHL, akan membuka jalur penerbangan dengan menggunakan A-320 ke Jakarta dan melakukan stop pelayanan di Singapura dalam waktu dekat ini.

Pelanggan harus melihat ini dengan jeli dan menerapkan sistem 1 price and 1 gate policy untuk cargo dalam meningkatkan pelayanan, karena sekali lagi, harga  menjadi pertimbangan bukan yang utama dimana pelayanan serta kejelasan usaha menjadi yang utama bagi para pengusaha.

Kita dapat menjadikan Hongkong sebagai mitra kerja dalam melakukan investasi dimana banyak pengusaha Logistic menjadikan Hongkong sebagai Hub. Kita harus mengalihkan pasar Indonesia yang ada di Singapura atau Malaysia dan Thailand, Bandara kita harus lebih baik dalam memberikan pelayanan dan kejelasana usaha bagi pengguna jasa layanan apabila kita dapat memberikan pelayanan kelas dunia dalam waktu dekat ini dimana kompetisi semakin ketat.

Demikian sekilas ulasan mengenai pelayanan kebadar-udaraan yang berkelas dunia dimana bandara kelas dunia harus mempunyai pelayanan kelas dunia dan juga merek-merek kelas dunia. World Class Airport, World Class Service, World Class Brand !! Ciptakan taste yang berkelas dunia kepada sumber daya manusia sebagai pengelola bandara, attitude menjadi yang berkelas dunia. Maju dan Jayalah Indonesia !! Merdeka !!

Dino Tribrata
Pemerhati Bandara

 

(kri)

 

shadow