Tajuk Sindo

Sang Kyai

Koran SINDO

Jum'at,  31 Mei 2013  −  07:32 WIB
Sang Kyai
Ilustrasi.Sindotrijaya

Sang Kyai hari ini resmi dirilis serentak di bioskop-bioskop utama di Tanah Air. Film karya sutradara Rako Prijanto mendapat sambutan istimewa dari masyarakat, terutama kalangan Nahdliyin, yang ingin melihat dan mengenang kembali kisah hidup dan perjuangan tokohnya tersebut, yakni Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.

Sambutan ini diwujudkan dengan melakukan nonton bareng (nobar). Film yang dibintangi artis kawakan Ikranegara, Christine Hakim, dan Agus Kuncoro tersebut mengisahkan bagaimana pendiri Ponpes Tebu Ireng, Cukir, Jombang sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu berjuang bukan hanya untuk agama, melainkan juga bangsa Indonesia yang saat itu masih jabang bayi. Pada 1942–1950, yakni era perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, peran kakek mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut begitu sentral, terutama di kalangan santri.

Bagi kalangan Nahdliyin, film Sang Kyai begitu emosional bukan karena mengisahkan tentang ketokohan pendiri organisasinya atau perannya mengembangkan pondok pesantren yang menjadi sentral pengembangan gerakan keagamaan. Lebih dari itu, film tersebut secara langsung sebagai bentuk pengakuan sekaligus apresiasi terhadap peran KH Hasyim Asy’ari, NU, dan santri dalam perjuangan kemerdekaan.

Generasi saat ini tidak banyak yang mengetahui peran sang kiai yang saat itu juga menjadi pemimpin tertinggi Masyumi di belakang laskar Hisbullah dan Sabilillah yang kala itu menjadi “biang” berbagai pertempuran sengit melawan penjajah di berbagai daerah di Jawa seperti Bekasi dan Ambarawa. Puncak ketokohannya adalah keluarnya “Resolusi Jihad”. Dalam fatwanya tersebut, KH Hasyim Asy’ari mengajak para santri berjihad fisabilillah melawan sekutu yang akan menduduki Kota Surabaya hingga pecah perang besar yang kelak melahirkan Hari Pahlawan 10 November 1945.

Jihad tersebut mengobarkan semangat “hidoep atau mati” untuk mengusir penjajah yang ingin kembali menguasai negeri ini. Kisah tersebut tidak diketahui karena selama orde baru ada upaya sistematis untuk melemahkan, bahkan mengeliminasi peran kesejarahan para kiai, santri, dan NU. Tak banyak yang tahu pula bahwa peran KH Hasyim Asy’ari bukan hanya mengobarkan elan perjuangan bersenjata, melainkan juga meletakkan landasan filosofi yang kukuh bagi berdirinya negara ini. Fatwa bahwa membela negara adalah membela agama.

Pendapat tersebut menjadi perekat yang kuat hubungan keislaman dan keindonesiaan. Belakangan hal tersebut menjadi fondasi lahirnya keputusan tentang Negara Indonesia adalah final dan penerimaan Pancasila sebagai dasar negara. Sejatinya, keberadaan Sang Kyai bukan hanya penting bagi kalangan Nahdliyin. Bagi bangsa ini, terutama generasi, film seperti itu sangat dibutuhkan di tengah keringnya keteladanan dari para pemimpin saat ini.

Melalui Sang Kyai dan film bergenre sejarah, biografi tokoh, dan edukasi lain seperti Sang Pencerah, Ainun dan Habibie, Seogija, Laskar Pelangi, Lima Menara, 9 Summers 10 Autumns, para generasi saat ini bisa mendapat motivasi dan pelajaran berharga tentang perjuangan, kepemimpinan, kecintaan terhadap bangsa, semangat berprestasi, dan karakter positif lainnya. Tentu film berkualitas tersebut tidak ada artinya tanpa ada dukungan dari masyarakat luas.

Kehadiran masyarakat di bioskop untuk menyaksikan film-film seperti itu adalah bahan bakar bagi para pekerja film untuk menghadirkan karya bermutu dan layak tayang. Peran pemerintah tentu juga sangat dibutuhkan. Program Kementerian Pendidikan Nasional untuk menggelar nobar film-film seperti itu harus diteruskan karena bisa menjadi alternatif pendidikan karakter bagi anak didik

 

(hyk)

 

shadow