Sosial & Budaya

Kilas balik reformasi 1998

Jejak berdarah rezim militerisme Orde Baru

Hasan Kurniawan

Rabu,  22 Mei 2013  −  21:03 WIB
Jejak berdarah rezim militerisme Orde Baru
Ilustrasi (dok:Istimewa)

PROFESOR Benedict Anderson, guru besar emeritus pada Cornell University di Ithaca, Amerika Serikat, yang dikenal dengan penulis Cornell Paper atau Makalah Cornell pernah berucap, rezim militerisme Orde Baru dibangun atas tumpukan mayat orang komunis di Indonesia, pada 1965-1966.

Pada periode awal pembunuhan itu, jumlah korban tewas mencapai sekira 1 juta orang, dengan perincian 800.000 korban di Jawa, dan 100.000 korban di Bali dan Sumatera. Namun ada juga yang mengatakan jumlahnya mencapai 2 juta orang.

Merujuk pada jumlah korban, ungkapan itu dirasa tidak berlebihan. Bahkan, gelombang pembantaian massal terhadap orang komunis dan yang dikomuniskan masih terjadi pada periode awal berdirinya Orba, tahun 1967-1968. Peristiwa itu dikenal dengan pembunuhan massal di Purwodadi. Korban tewas dalam peristiwa ini mencapai sekira 100.000 orang lebih.

Pembunuhan dilakukan oleh Kodim Purwodadi atas perintah Kodam Diponegoro, dengan sandi Operasi Kikis I pada periode 4 Juli–Desember 1967, dan Kikis II pada periode 27 Juni–7 Juli 1968. Dalam dua gelombang operasi itu, ribuan orang ditangkap dan disekap dibeberapa kamp penahanan yang tersebar di wilayah kabupaten Grobogan.

Pembersihan terhadap kaum komunis di awal berdirinya Orde Baru, kembali dilanjutkan di Timor Timur, pada 17 Juli 1976 sampai 19 Oktober 1999. Provinsi Indonesia ke-27 itu, dibangun atas tumpukan mayat orang Timor.

Pembantaian itu dilakukan dengan sandi Operasi Seroja, pada 7 Desember 1975. Tujuan operasi itu, adalah untuk menarik Timor Timur ke pangkuan ibu pertiwi dari tangan Fretilin yang berpaham komunis atas desakan Amerika Serikat dan Australia, serta sejumlah rakyat Timor Timur yang ingin bersatu dengan republik.

Selama 24 tahun pendudukan Indonesia di Timor Timur, tercatat sekira 200.000 orang meninggal dunia. Sebanyak 60.000 orang dinyatakan tewas di tangan Fretilin, menurut laporan resmi PBB. Sisanya di tangan tentara republik.

Peristiwa dramatis terjadi ketika pasukan Indonesia mendarat di Timor Leste, pada 7 Desember 1975. Fretilin dengan ribuan rakyat Timor mengungsi ke daerah pegunungan untuk melawan tentara Indonesia. Lebih dari 200.000 orang penduduk yang ikut longmarch dengan Fretilin, tewas terkena serangan bom udara militer Indonesia. Namun ada juga yang kelaparan dan sakit.

Seperti diketahui, pada 20 Mei 2002, Timor Timur kemudian menjadi negara merdeka. Peristiwa ini disusul dan ditandai dengan diakuinya secara internasional negara Republik Demokratik Timor Leste oleh PBB. Sejak itu, pemerintah Timor Leste berusaha memutuskan segala hubungan dengan pemerintah Indonesia. Bahkan mereka mengadopsi Bahasa Portugis sebagai bahasa resmi.

Setelah pembersihan kaum komunis, sasaran pembantaian mulai bergeser kepada kaum bromocorah atau Gabungan Anak Liar (Gali) alias preman, pada periode awal 1980-1985. Operasi pembantaian ini diberi sandi Operasi Celurit dan Penembak Misterius (Petrus).

Peristiwa ini, pertama kali dilangsungkan di Yogyakarta, dan menyebar ke kota-kota besar lainnya. Total korban Petrus, tercatat sekira 10.000 orang. Pada tahun 1983 tercatat ada sekira 532 orang yang tewas akibat Petrus. Pada 1984, korban tewas menurun menjadi 107 orang, dan pada 1985, menjadi 74 orang.

Usai membersihkan Gali, pembunuhan dilanjutkan dengan memburu para sekutu awal militerisme Soeharto. Sekutu Orde Baru ini, adalah salah satu kelompok yang membantu tentara dalam menumpas dan membersihkan kaum komunis, pada 1965-1966, dan 1967-1968. Mereka adalah kaum Muslim radikal.

Pembunuhan terhadap kaum putih itu, dimulai pada 12 September 1984. Peristiwa ini dikenal dengan tragedi Tanjung Priok. Ratusan orang jamaah Mushala as-Sa’adah tewas dibantai oleh tentara. Peristiwa ini dipicu oleh provokasi dua orang oknum petugas Koramil yang masuk ke dalam musala tanpa melepas alas sepatu.

Pembunuhan terhadap kaum putih berlanjut, di Desa Way Jepara, Lampung, pada 1989. Ratusan tentara dari Korem Garuda Hitam 043 Lampung, menyerbu Desa Way Jepara, saat warga tengah tertidur lelap. Mereka menembak secara sporadis, dan membakar rumah warga yang sedang tertidur.

Penyerbuan tentara ini, dilakukan menyusul dugaan adanya kelompok pengajian yang ingin mengganti Pancasila dengan asas Islam. Serta, tewasnya Danramil Way Jepara usai mendatangi kompleks pengajian itu. Ratusan warga meninggal dalam aksi penyerangan tersebut. Namun pemerintah mengatakan, korban tewas sekira 29 orang.

Akhir 1980, sasaran pembantaian banyak diarahkan kepada kelompok-kelompok yang anggap berseberangan dengan pemerintah. Seperti yang terjadi di Aceh misalnya. Sejak diberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM), pada 1989-1998, tercatat ribuan warga tewas, dan ratusan lainnya hilang diculik.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan Aceh melaporkan, sebanyak 1.258 orang tewas dalam operasi itu. Sementara 550 orang lainnya, dinyatakan hilang dan belum kembali. Diduga, mereka yang hilang sudah tewas dibunuh.

Memasuki tahun 1990-an, sasaran pembunuhan lebih kepada kelompok kecil yang dianggap berbahaya. Kelompok ini, banyak terdiri dari kaum intelektual, aktivis buruh, mahasiswa, dan pemuda. Hal itu terjadi seiring dengan geliat gerakan massa yang sedang tumbuh dan membawa ekses negatif terhadap rezim.

Tercatat pada 1985, ada sekira 78 pemogokan buruh, 73 pemogokan pada 1986, 37 pemogokan pada 1987, 38 pemogokan pada 1988, dan 17 pemogokan pada 1989. Aksi pemogokan meningkat, pada periode 1990. Tercatat 61 pemogokan terjadi pada 1990, 100 pemogokan pada 1991, 251 pemogokan pada 1992, 300 pemogokan pada 1993, dan 1.030 pemogokan pada 1994.

Penculikan aktivis buruh dimulai, pada 1993. Seorang aktivis buruh PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong Sidoarjo, Jawa Timur, diculik dan dibunuh. Buruh perempuan itu bernama Marsinah (24). Kematiannya, telah menimbulkan amarah dan semangat perjuangan bagi kaum buruh dan aktivis pro demokrasi lainnya.

Selain menimpa aktivis buruh, kekerasan hingga menyebabkan korban tewas juga menimpa Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin, wartawan Harian Bernas di Yogyakarta. Dia dianiaya di kontrakannya, pada 13 Agustus 1996, dan menghembuskan nafas terakhir pada 16 Agustus 1996. Penganiayaan Udin, diduga erat berkaitan dengan tulisan-tulisannya di media massa.

Di tahun yang sama, tentara menyerbu masuk ke dalam kampus, dan menembak mahasiswa dengan peluru tajam. Peristiwa itu disebut dengan April Makassar Berdarah atau dikenal dengan Amarah, terjadi pada 24 April 1996. Untuk pertama kali, tentara membawa masuk tiga unit panser ke dalam kampus UMI.

Dalam peristiwa itu, tiga aktivis mahasiswa dinyatakan tewas. Terdiri dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Andi Sultan Iskandar, mahasiswa Fakultas Teknik Syaiful Bya, dan aktivis mahasiswa UMI Tasrif.

Puncak kejadian politik di tahun ini adalah meletusnya peristiwa 27 Juli 1996 atau biasa disebut Kudatuli. Peristiwa ini ditandai dengan diserbunya kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia, di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat, yang dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri.

Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan), yang dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI. Penyerangan itu menimbulkan kerusuhan di Jalan Diponegoro, Salemba, dan Kramat. Beberapa kendaraan dan gedung dibakar massa.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mencatat, lima orang meninggal dunia, 149 orang (sipil maupun aparat) luka-luka, dan 136 orang ditahan. Dokumen akhir Komnas HAM menyebut, Kasdam Jaya Brigjen Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan penyerbuan atau pengambilalihan kantor DPP PDI oleh Kodam Jaya.

Dalam kerusuhan itu, pemerintah menuding aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) sebagai penggerak kerusuhan. Para aktivis dan simpatisan PRD pun mulai diburu pasca peristiwa itu. Mereka diculik, dan dijebloskan ke penjara. Di antara aktivis PRD yang diduga terlibat dalam peristiwa itu dan mendapat hukuman berat adalah Budiman Sudjatmiko.

Usai peristiwa itu, penculikan terhadap aktivis terus dilakukan. Tercatat sebanyak 13 orang aktivis diculik oleh militer. Mereka adalah Yanni Afri, Sonny, Herman Hendrawan, Dedy Umar, Noval Alkatiri, Ismail, Suyat, Ucok Munandar Siahaan, Petrus Bima Anugerah, Widji Tukul, Hendra Hambali, Yadin Muhidin dan Abdun Nasser.

Pasukan Kopassus dari tim mawar dianggap bertanggung jawab atas peristiwa penculikan ini. Dari 24 orang yang diculik, ada sembilan yang berhasil bebas. Mereka adalah Aan Rusdiyanto, Andi Arief, Desmon J Mahesa, Faisol Reza, Haryanto Taslam, Mugiyanto, Nezar Patria, Pius Lustrilanang dan Raharja Waluya Jati.

Sementara satu orang lagi, Leonardus Nugroho (Gilang) yang sempat dinyatakan hilang, tiga hari kemudian ditemukan tewas di Magetan dengan luka tembak di kepala.

Tidak sampai di situ, kasus pembunuhan yang melibatkan pejabat negara terus berlangsung di periode sebelum dan sesudah reformasi 1998. Munir, pegiat HAM diracun saat akan melanjutkan study S2 di Univeritas Utrecht, Belanda. Diduga, dia sengaja dibunuh karena kasus-kasus pelanggaran HAM yang sedang ditanganinya.

(san)

views: 14.093x

 

shadow