Tajuk Sindo

Bulog tangani daging sapi

Koran SINDO

Kamis,  16 Mei 2013  −  19:17 WIB
Bulog tangani daging sapi
Ilustrasi.

Akhirnya perusahaan umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) diberi kepercayaan mengurus penyediaan daging sapi. Secara resmi Bulog telah diberi tanggung jawab untuk menstabilkan harga daging sapi yang masih di atas harga wajar pada level Rp90.000 per kg hingga Rp100.000 per kg.

Meski sudah ditunjuk sebagai stabilisator, Bulog mengaku belum berani melangkah sebab surat keputusan penugasan resmi dari pemerintah belum diterbitkan. Berapakah harga daging sapi yang masuk dalam kategori wajar atau level harga seharusnya? Menurut versi Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoesa, harga daging sapi yang wajar sebesar Rp70.000 per kg hingga Rp80.000 per kg.

Bulog optimistis bisa menurunkan harga daging sapi. Sebagai lembaga pemerintah, peran Bulog berbeda dengan importir yang memang bertujuan mencari keuntungan semata. “Bulog tidak mencari keuntungan, tetapi sebagai stabilisator harga,” kata Sutarto, yang berharap sudah bisa beroperasi awal Juni mendatang.

Namun, respons sejumlah kalangan terutama masyarakat yang paham seluk-beluk perdagangan daging sapi selama ini kurang yakin terhadap peran Bulog akan berhasil menstabilkan harga daging dalam waktu dekat, terutama menghadapi Ramadan pada Juli dan Agustus mendatang.

Tetapi, keraguan tersebut ditepis Menteri Perdagangan Gita Wirjawan yang menyatakan, bila harga daging sapi menembus level di atas Rp100.000 per kg, pemerintah akan memakai senjata pamungkasnya dengan membuka keran impor. Terlepas dari peran Bulog yang mendapat tugas khusus mengawal harga daging sapi, produksi daging sapi di dalam negeri sebenarnya tak perlu dikhawatirkan bakal kekurangan pasokan.

Tengok saja, sejumlah pemerintah daerah mengklaim wilayahnya mengalami surplus sapi potong. Di antaranya Pemerintah Daerah Jawa Tengah mencatat tak kurang dari 2,2 juta sapi potong siap memenuhi kebutuhan Jawa Tengah dan sekitarnya, bahkan ke berbagai daerah lain.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengakui harga daging sapi di wilayahnya di bawah harga rata-rata nasional atau sekitar Rp85.000 per kg. Karena itu, Bibit meyakini terjadi gejolak harga daging sapi dalam delapan bulan terakhir ini bukan disebabkan oleh kelangkaan sapi potong. Surplus sapi potong bukan hanya dialami Jawa Tengah, melainkan beberapa daerah lain seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Persoalannya, mengangkut daging sapi dari dua daerah penghasil sapi potong tersebut memerlukan biaya lebih tinggi. Sebagai perbandingan, membawa daging sapi dari NTB dan NTB ke Jakarta membutuhkan biaya sebesar Rp3.000 per kg, sementara biaya impor daging sapi dari Australia ke Jakarta tak lebih dari Rp700 per kg. Perbedaan biaya angkut yang begitu signifikan tidak terlepas dari sarana infrastruktur yang memadai.

Infrastruktur yang dimiliki Australia sebagai negara penghasil daging sapi tak bisa dibandingkan dengan sarana dan prasarana di negeri ini. Ketika daging sapi mulai langka di Jakarta seiring dengan pengurangan kuota impor oleh Kementerian Pertanian, kita baru tersadar betapa susahnya menemukan alat transportasi untuk mengangkut daging sapi dari sejumlah wilayah yang surplus sapi potong.

Kita berharap, seiring penugasan Bulog sebagai stabilisator harga daging sapi, pemerintah juga mulai serius membenahi infrastruktur untuk melancarkan pendistribusian bukan hanya daging sapi, melainkan juga semua bahan pangan dari sejumlah wilayah produsen pangan di negeri ini.

Masyarakat butuh langkah nyata pemerintah, bukan sekadar silat lidah dengan menyebut “harga daging sapi sudah stabil pada level tinggi” dan memberi tanggung jawab penuh Bulog tanpa intervensi kepentingan pihak tertentu seperti pada zaman Orde Baru.

 

(mhd)

 

shadow