Sosial & Budaya

Kilas balik reformasi 1998

Reformasi 1998 mati saat dilahirkan

Reformasi 1998 mati saat dilahirkan
Ilustrasi (dok:Istimewa)

REFORMASI mahasiswa 1998 mati sejak hari pertama dilahirkan, pada 18 Mei 1998. Penyebabnya adalah racun kepentingan. Tidak adanya satu sudut pandang yang sama mau dibawa kemana republik, membuat barisan massa terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil.

Pada aksi pendudukan pertama di Gedung MPR/DPR, terdapat dua kelompok massa besar. Terdiri dari massa Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Se-Jakarta (FKSMJ) yang mewakili lembaga formal kemahasiswaan, dan Forum Kota (Forkot) yang mewakili lembaga non formal kemahasiswaan.

Massa yang pertama, memilih jalur moderat dengan mengutus 70 orang perwakilan senat masing-masing kampus masuk melalui jalur belakang Gedung MPR/MPR. Sementara barisan massa yang kedua, memilih jalur perjuangan anti kompromi dengan menggelar longmarch mendobrak masuk Gedung DPR/MPR.

Dua kelompok mahasiswa di Jakarta ini juga tak luput dari kepentingan. Mereka masing-masing memiliki arah tujuan yang berbeda dalam reformasi. Ada yang menghendaki reformasi total, ada juga yang menuntut reformasi damai, dan konstitusional. Bahkan, ada yang menuntut reformasi biasa-biasa saja.

"Dulu itu ada dua kelompok, FKSMJ dan Forkot. FKSMJ itu senat-senat. Karakteristik senat itu, mereka pergi sendiri dan merasa seluruh mahasiswa sekampusnya ada di belakang mereka," ujar aktivis Forkot Adian Yunus Yusak Napitupulu, saat berbincang dengan Sindonews, di Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa 14 Mei 2013.

Lebih jauh, Adian menuding, aktivis FKSMJ tidak percaya dengan gerakan massa dan bersifat elitis. Hal itu disebabkan, karena perwakilan FKSMJ merasa dirinya terpilih dalam proses demokrasi di kampusnya. Kemudian setelah terpilih, mereka merepresentasikan ratusan, bahkan ribuan mahasiswa berada di belakangnya.

Sedangkan massa Forkot, lebih memilih jalur gerakan massa sebagai alat perlawanan. Mereka kerap melakukan pertemuan-pertemuan, dan konsolidasi ke kampus-kampus di Jakarta. Bahkan, dia mengklaim aksi pendudukan pertama di Gedung DPR/MPR merupakan ide Forkot yang curi oleh FKSMJ.

"Sekira tanggal 15-16 Mei 1998, ada pertemuan di IKIP untuk mengangkat koordinator FKSMJ. Sebelum pertemuan itu, kami sudah ada rencana untuk menduduki Gedung DPR/MPR, tanggal 19 Mei 1998. Hasil pertemuan FKSMJ di IKIP itu, mereka mau datang duluan ke Gedung MPR/DPR dalam bentuk perwakilan," ungkapnya. 

Informasi itu kemudian bocor ke aktivis Forkot dan sampai ke telinga Adian. Aksi Forkot pun dimajukan menjadi tanggal 18 Mei 1998 mengikuti FKSMJ. Saat perwakilan FKSMJ sudah berada di dalam gedung DPR/MPR, sekira 3.000-4.000 massa Forkot sudah berada di depan gedung, dan tidak diperbolehkan masuk.

"Lalu gua masuk ke dalam Gedung DPR/MPR, bernegosiasi dengan teman-teman FKSMJ. Di sana, mereka bertemu dengan Amien Rais, Mayjen TNI Hari Sabarno, dan yang lainnya. Sementara kami tidak bertemu dengan siapa-siapa," terangnya.

Setelah melakukan negosiasi dengan aparat yang berjaga, akhirnya massa Forkot diperbolehkan masuk. Namun dengan pengawalan yang sangat ketat. Mereka tampak menggunakan almamater kampus masing-masing. Bersama massa Forkot, tampak almamater kuning Universitas Indonesia (UI) ikut bergabung.

Di dalam Gedung DPR/MPR, suasana menjadi tegang saat mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan "Turunkan Soeharto-Bubarkan DPR/MPR". Aparat TNI yang berjaga secara spontan langsung mengokang senjata yang berisi peluru tajam dan mengarahkan moncongnya langsung ke hadapan mahasiswa.

Keringat jagung para mahasiswa pun bercucuran. Setelah dibujuk untuk menurunkan spanduk, moncong senjata pun diturunkan, dan suasanya kembali seperti semula.

Selang berapa lama, massa kembali dikejutkan dengan kerumunan orang yang berjalan menuju ke arah mereka. Di tengah kerumunan itu, terdapat sosok tokoh reformasi Amien Rais. Dengan penuh percaya diri, Amien Rais keluar menemui mahasiswa dengan senyum lebar.

"Saat itu gua tidak tahu kenapa tiba-tiba Amien Rais menghampiri kami. Apakah kami diklaim sebagai basis massanya FKSMJ, kami tidak tahu. Tetapi Amien Rais itu keluar dari Gedung Nusantara 3 dengan percaya diri (pede). Sambil angkat tangan, dia naik ke atas mobil," beber Adian.

Saat itu, Amien tidak menduga, jika massa yang didatanginya bukan bagian dari FKSMJ, melainkan basis massa Forkot. Kedatangan Amien Rais kontan mendapat cibiran dari massa Forkot. Mereka bertanya-tanya satu dengan yang lain, siapa orang itu? Untuk apa dia ke sini, mau apa dia, dan sebagainya.

"Mungkin dia pikir yang di dalam perwakilan, dan yang di luar itu massanya. Nah kita kan beda kelompok. Kita tidak tahu, begitu Amien Rais naik ke atas mobil komando, dilemparin botol aqua oleh anak-anak. Makanya, ada satu momentum sejarah, Amien lari karena dilempari," tawa Adian.

Malam hari, massa Forkot coba keluar dari dalam Gedung DPR/MPR, berencana mengepung dan menduduki Istana Negara. Saat mereka sudah keluar Gedung DPR/MPR, Amien Rais memberikan pernyataan kepada pers dan mengatakan akan ke Istana Negara, pada pagi harinya.

Mendengar pernyataan Amien Rais tersebut, Istana Negara langsung siaga satu. Sepanjang jalan menuju Istana Negara dijaga oleh ribuan tentara, dan dipagari oleh kawat berduri. Bahkan, kawat berduri dipasang hingga di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS). Massa pun kembali masuk ke Gedung DPR/MPR.

(san)

views: 2.542x

 

shadow