Politik

Ini tantangan bagi caleg perempuan di 2014

Ini tantangan bagi caleg perempuan di 2014
Ilustrasi (Sindonews)

Sindonews.com - Aktivis perempuan Ridha Fidyana mengungkapkan, bahwa ada tantangan yang harus dilewati bagi calon anggota legislatif (caleg) perempuan yang akan maju menjadi anggota DPR RI. Tantangan utama dari caleg perempuan adalah kesiapan untuk maju sebagai calon anggota DPR, khususnya mengenai kemampuan individu.

"Ketika seorang perempuan sudah mampu bulatkan tekad untuk mengikuti panggilan jiwanya menjadi legislator, artinya hambatan dari dalam dirinya sudah teratasi, dengan komitmen (disiplin) nya untuk kerja membuktikan kapabilitas dan intergritasnya," kata Ridha melalui pesan singkat kepada Sindonews, Senin (6/5/2013).

Ridha tak memungkiri bahwa tantangan kedua untuk caleg dari perempuan bersumber dari dukungan keluarga, termasuk melalui suami mereka. Ia melihat, partai politik (parpol) juga kerap memberikan porsi yang berbeda kepada calon wanita, karenanya ia merasa bersyukur dengan peraturan keterwakilan 30 persen wanita.

"Kedua, tantangan domestik dari orang-orang terdekat (suami, keluarga, lingkungan) yang harus memberi kepercayaan, support, keikhlasan dan kesempatan, bagi perempuan untuk berkarya dengan cakupan impact yang lebih luas lagi skalanya," terang wanita yang kini maju sebagai bacaleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

"Ketiga, tantangan di parpol sebagai kendaraan politik atau wadah berjuang, apakah memberi kesempatan & kepercayaan (support nyata) kepada legislator perempuan untuk bisa setara dengan laki-laki termasuk dalam hal kepemimpinan organisasi," lanjutnya.

Tantangan terakhir kata dia adalah meyakinkan kepada masyarakat bahwa perbedaan jenis kelamin tidak mempengaruhi wanita di dunia politik, termasuk mengenai penyampaian aspirasi publik melalui parlemen.

"Tantangan yang paling seru; yang berkuasa memilih legislator itu kan masyarakat umum (rakyat), apakah mereka sudah teredukasi dengan baik dan menaruh kepercayaan kepada legislator perempuan untuk berjuang di parlemen, sama atau bahkan mungkin saja lebih baik dibanding legislator laki-laki yang biasanya mereka lebih pilih (stereotypenya harus diganti)."

"Artinya, perbedaan gender tidak ada kaitannya dengan kualitas, kapabilitas dan integritas legislator. Mau laki atau perempuan, yang penting ia tangguh, mau berjuang untuk negara dan amanah," pungkasnya.


(kri)

views: 1.447x

 

shadow