Periskop

Pabrik bakat negeri tirai bambu

Koran SINDO

Senin,  21 Januari 2013  −  09:38 WIB
Pabrik bakat negeri tirai bambu
Ilustrasi.

Para atlet cilik China saat berlatih di Nanning Gymnasium yang dianggap kejam dalam memberikan pembinaan prestasi sejak dini. Tetapi, dari pola semacam itu lahir atlet-atlet potensial yang mampu memberikan prestasi membanggakan bagi Negeri Tirai Bambu itu.

Penyiksaan atau pelatihan? Itulah yang ditulis sejumlah media asing saat mengetahui pola pembinaan dan pelatihan para atlet di China. Maklum, para bibit atlet Negeri Tirai Bambu yang umumnya berusia lima tahun dididik secara keras.

Di cabang olahraga senam misalnya, Nanning Gymnasium di Nanning, China,merupakan salah satu dari banyak ”kamp pelatihan” yang dianggap kejam. Meski begitu, para orang tua tetap mengirim anakanak mereka untuk belajar bagaimana menjadi juara.

Salah satu bentuk pelatihan keras yang diterapkan di Nanning misalnya, tidak jarang anak-anak merintih kesakitan ketika mereka diminta duduk sambil menjulurkan kaki ke depan, dan sang pelatih menginjak kaki mungil tersebut di sekitar lutut.

Tidak jarang juga, para atlet yang masih berusia taman kanak-kanak diminta untuk membungkuk di atas lantai sambil kedua kakinya direntangkan. Sementara sang pelatih menekan pinggang mereka hingga badan si anak menempel rata dengan lantai.

Dalam pandangan pemerintah China, atlet senam harus dimulai pada usia yang sangat dini,karena mereka masih memeliki kelenturan tubuh yang mumpuni. Bagi dunia Barat, pola pelatihan semacam itu dinilai ekstrem.

Bahkan, gaya pembinaan prestasi semacam itu dinilai brutal.Tetapi begitulah cara China dalam mendidik atlet-atlet berbakat mereka. Hal ini dilakukan Negeri Tirai Bambu untuk menciptakan bintang olahraga masa depan.

Di samping itu, China juga terus berambisi menjadi negara yang menguasai Olimpiade, ajang olahraga terbesar di dunia. Pola semacam itu yang membuktikan mengapa atlet China di Olimpiade London 2012 begitu mudah bisa meraih kemenangan.

Bukan hanya itu, rekor demi rekor pun dicatat sejumlah atlet China. Sebut saja prestasi mengejutkan yang ditorehkan Ye Shewin.Gadis berusia 16 tahun asal China itu berhasil menyabet dua medali emas bergengsi di ajang renang. Shewin menang dalam nomor 200 dan 400 meter gaya ganti.

Dia juga mencatat rekor dunia baru.Dalam 100 meter terakhir,dia menorehkan waktu 58,68 detik. Capaian ini menyamai torehan perenang putra Amerika Serikat (AS), Ryan Lochte. Bahkan pada putaran terakhir lebih cepat daripada Lochte.

Sebelum Shewin tidak ada perenang wanita yang menorehkan catatan waktu yang lebih baik dibanding juara pria.Prestasi Shewin ini sempat memunculkan kecurigaan bahwa dia menggunakan doping.

Namun,kecurigaan itu sirna dengan pola pelatihan yang diterima Shewin. Sejak kecil, dia ditempa fisik dengan ”sadis”. Ini pula yang dirasakan para atlet di China. Menurut Shewin, semua orang bisa mewujudkan target. Dalam pikirannya, semua orang bisa jadi jenius. ”Saya berlatih 2,5 jam setiap pagi, 2,5 jam setiap sore, dan berlatih selama sembilan tahun,” kata Shewin menjawab kecurigaan yang merebak saat itu.

Untuk menjawab kecurigaan masyarakatduniaterhadapprestasiShewin, pertengahan tahun lalu China Foto Press melansir sejumlah foto mengenai betapa kerasnya pembinaan yang dilakukan China untuk calon atlet mereka.

Tak pelak, gambar-gambar itu pun dipublikasikan sejumlah media dunia. Ratapan dan tangisan keras anakanak usia dini merupakan cermin bahwa pembinaan tidak boleh setengahsetengah.

Bagi kebanyakan orang tua, mungkin tidak akan tega melihat anak mereka dilatih begitu keras. Para pelatih ”memaksa” calon atlet menekuk tubuh mungil mereka hingga merintih kesakitan. Mereka juga tidak segan menyuruh anak didik bergelantungan hanya bertumpu pada tangan mungil mereka.

Semua dilakukan agar tubuh, kekuatan, dan kelenturan mereka terbentuk sejak dini. Apa yang dilakukan China dalam menciptakan atlet tak lain karena negara ini berambisi mengungguli AS dalam semua lomba cabang olahraga, termasuk di ajang paling bergengsi, Olimpiade.

Ambisi ini juga yang ditanamkan pada benak atlet cilik layaknya pencucian otak. Mereka tidak hanya dilatih fisik,namun juga semangat untuk menjadi nomor satu di dunia. Shewin bukanlah contoh satu-satunya atlet yang dilatih keras sejak kecil.

Pemerintah China sejak lama ingin meraih kejayaan di bidang olahraga.Pembinaan yang dilakukan China sudah berlangsung sejak dekade 1950-an. Untuk mendapatkan bocah potensial, otoritas olahraga China juga bekerja sama dengan lembaga pendidikan.

Mereka melibatkan guru-guru TK dan sekolah dasar untuk menyeleksi anak yang berpotensi di bidang olahraga. Kebijakan ini juga disambut para orang tua, termasuk Qing Dingyi yang melihat Shewin mempunyai bakat dan minat renang sejak usia tujuh tahun.

Shewin dan ratusan anak lain dibina di Chen Jinglun Sports School. Shewin meraih prestasi pertamanya di kejuaraan junior pada usia 11 tahun. Almamater Shewin merekrut sekitar 900 anak TK di Hangzhou setiap tahun. Mereka dipaksa menerima nasib sebagai calon juara.

Mengingat kerasnya latihan,mungkin banyak anak yang lebih memilih menjadi anak biasa yang bisa membaca kisah detektif setiap hari. China tidak hanya memberikan perhatian pada atletik dan senam, namun pada semua cabang.

Di sejumlah tempat pembibitan atlet akan mudah ditemui anak-anak yang berlatih berbagai cabang olahraga, seperti tinju, menembak, anggar, panahan, tenis lapangan, angkat besi, tenis meja, hingga bulu tangkis (untuk bidang terakhir saat ini tidak ada negara yang mengalahkan China).

Di samping itu,China juga memiliki ribuan boarding school yang disebut sebagai pabrik talenta Negeri Tirai Bambu. Setiap sekolah mengkhususkan pada sebuah cluster cabang olahraga tertentu. Misalnya di cabang senam dan menyelam, ditekankan pada pola fleksibilitas dan keseimbangan.

Sedikitnya di China terdapat 3.000 boarding school atau di sana biasa disebut boot camp, yang didanai negara.

Sekolah ini ibarat mesin olahraga nasional. Pola pelatihan dan pembinaan mengadopsi gaya Blok Timur. Model China dimulai secara serius pada 2001 ketika Beijing memenangkan hak untuk penyelenggaraan Olimpiade 2008.

Saat itu,pemerintah China mengusung program, ”Kebanggaan Menang di Olimpiade”. Gaya China dalam mendidik para atletnya mengancam dominasi AS yang selama bertahun-tahun menjuarai Olimpiade.

Di China,proses pencarian bakat dilakukan sangat klinis.Anakanak berumur 5 hingga 6 tahun diuji untuk keterampilan dan kebugaran. Ini sebagai bagian dari strategi identifikasi bakat. Sampai sekira usia 12 tahun, penekanan pembinaan atlet dilakukan pada pengembangan keterampilan ketimbang kompetisi. Yang cukup menarik, hampir di semua sekolah dihiasi bendera China yang besar.

Hal ini sebagai sebuah pengingat bahwa para murid (atlet) adalah milik nasional dan harus berjuang untuk negara. Mereka kemudian dipantau secara intensif. Mereka yang berbakat akan dipindahkan dari sekolah regional ke negara.

Dalam beberapa kasus, jumlah mereka mencapai puluhan. Sistem sekolah menyebabkan mereka harus berpisah dengan keluarga selama berminggu-minggu. Meski begitu, para orang tua tidak keberatan, sebab akomodasi dan biaya makan mereka ditanggung negara.

Di samping itu, negara juga menyiapkan studi akademis bagi para atlet berprestasi. Setiap harinya para atlet harus membagi waktu antara latihan dan belajar di kelas. China memilih sistem pembinaan yang mereka lakukan.

Negeri Tirai Bambu ini juga tahu betul konsekuensinya baik terhadap raihan prestasi maupun bagi kehidupan calon atlet. China merasa bahwa pilihan itu bisa meningkatkan prestasi mereka secara signifikan. Tidak hanya di level Asia, namun juga dunia.

 

(kur)

 

shadow