
Koran SINDO
Indonesia menjadi pasar yang menggiurkan bagi industri automotif. Ini fakta yang sulit dibantah. Dari tahun ke tahun penjualan mobil mengalami peningkatan signifikan. Bahkan ketika dunia dilanda krisis pun angka penjualan mobil terus naik.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yakin penjualan mobil akan tembus 1 juta unit pada akhir tahun 2012. Keyakinan ini berangkat dari data penjualan per Agustus 2012 yang mencapai 814.000 unit. Angka ini sangat mungkin melampaui capaian penjualan mobil 2011 sekitar 860.000 unit pada akhir tahun ini. Peningkatan jumlah kelas menengah Indonesia adalah penyebab utama terdongkraknya penjualan mobil nasional.
Dengan pangsa pasar yang besar, Indonesia memang menjadi incaran pabrikan mobil dunia. Antusiasme pengunjung pada Indonesia International Motor Show (IIMS) 2012 membuktikan betapa besarnya animo kelas menengah untuk mengetahui dan membeli mobil baru.
Seperti pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya yang juga selalu dibanjiri pengunjung, IIMS sudah menjadi barometer kemajuan industri automotif di Tanah Air.
Sejumlah pabrikan terkemuka pun mulai mengalihkah basis produksinya di Indonesia, mengingat besarnya daya beli masyarakat kelas menengah. Pabrikan pendatang baru juga turut meramaikan pasar mobil nasional yang semakin menggairahkan.
Besarnya pasar automotif berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Sekarang pertanyaannya, apa yang bisa kita perbuat dari kesempatan langka itu untuk membesarkan industri mobil nasional? Bukankah sebenarnya Indonesia mampu memproduksi mobil nasional untuk memenuhi kebutuhan kelas menengah kita yang sangat besar?
Paling tidak kita bisa memulai menjadi bagian dari pelaku industri mobil lain untuk melayani kebutuhan masyarakat kita. Sayang sekali jika dalam situasi yang sangat bagus ini kita hanya bisa puas menjadi konsumen mobil.
Pasar sudah jelas dan ada. Jangan sampai hanya orang lain yang memanfaatkan manisnya pasar tersebut. Apakah mobil listrik yang digagas Menteri BUMN Dahlan Iskan, atau mobil Esemka yang dipopulerkan calon gubernur DKI Joko Widodo, atau mobil-mobil rakitan pelajar, dan mahasiswa kita sudah memiliki kesempatan itu?
Jika belum, apakah pemerintah sudah memberi peluang bagi mereka untuk bertumbuh menjadi pionir industri automotif nasional? Jika sudah, sejauh mana keberpihakan pemerintah untuk memberi kesempatan itu? Menumbuhkan industri mobil nasional bukan berarti mengurangi kesempatan para pelaku industri automotif yang sudah eksis.
Pasar dalam negeri masih sangat besar. Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita bisa menuju kebangkitan industri automotif nasional.
Bukankah kegigihan pabrikan Malaysia Proton, dan pabrikan Korea Selatan Hyundai telah memberi contoh yang baik tentang bagaimana membangkitkan industri automotif nasional? Apalagi potensi sumber daya manusia Indonesia di bidang automotif juga tidak sembarangan. Banyak putra-putri bangsa yang mampu menjadi pemimpin di pabrikan automotif besar.
Kreasi anak-anak muda kita juga diakui dan digunakan oleh pabrikan automotif besar dunia mulai Toyota, Daihatsu, Volkswagen hingga BMW. Kita bangga dengan keberhasilan IIMS sebagai barometer industri automotif di Asia. Tapi kita akan lebih bangga jika di antara puluhan booth produsen/produk automotif itu terdapat minimal satu booth untuk memamerkan produsen mobil nasional.
Tapi kenyataannya tidak ada booth mobil listrik atau mobil Esemka di IIMS 2012. Kita tidak tahu mengapa itu terjadi. Yang kita ingin tahu apakah mobil nasional kebanggaan bangsa bisa dipamerkan di IIMS 2013 bersama produsen automotif lainnya? (*)
(lil)