
Robbi Khadafi
Sindonews.com - Pergantian ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPR dari Mustafa Kamal ke Hidayat Nur Wahid (HNW) dianggap sebagai bentuk penyelesaian konflik internal antara faksi partai keadilan, dan faksi partai kesejahteraan dalam penetapan calon presiden (capres) yang akan diusung dalam pemilu presiden (Pilpres) 2014.
Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Saleh Partaonan Daulay mengatakan, ada sisi positif dan negatif dari pergantian Ketua Fraksi PKS tersebut. Negatifnya, ada masalah internal partai yang harus dibenahi antara pendukung HNW sebagai pendiri partai dengan penetapan capres.
"Mungkin masalah internal, dimana PKS ingin satukan suara partai. Dimana faksi partai keadilan ragu dengan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq yang sudah di gadang-gadang maju sebagai capres dari PKS," katanya saat dihubungi di Jakarta, Senin (24/9/2012).
Dia mengungkapkan, perbedaan tersebut pastinya telah mengganggu kinerja partai untuk pemenangan Pemilu 2014, sehingga harus mengganti Ketua Fraksinya di DPR. "HNW sudah teruji membawa kemajuan PKS dengan ilmu hadis, dan politik yang dimilikinya ketika jadi presiden PKS. Saat itu, PKS mampu memperoleh suara yang signifikan pada Pemilu 1999," ujarnya.
Dari situ kemudian, PKS akan mengusung HNW sebagai capres dalam Pilpres 2014. Pasalnya, HNW dianggap bisa meningkatkan elektabilitas partai dan dirinya sendiri dengan cara terjun langsung ke masyarakat.
Sementara sisi positifnya, PKS yang telah gagal dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta ingin kembali menguatkan suara partainya di tingkat nasional. "Ini pembelajaran bagi PKS sebagai partai kader, dan pembelajaran bagi parpol lain, bahwa PKS tidak gila jabatan. HNW sudah pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan cagub, tapi turun derajat sekarang menjadi ketua fraksi," ungkapnya.
(lil)