
Rico Afrido
Sindonews.com - Pola penyerangan yang dilakukan pihak tertentu terhadap anggota polisi di lapangan perlu dicermati. Indonesia Police Watch (IPW) meyakini, pola penyerangan itu dilakukan oleh orang-orang yang terlatih.
Dituturkan Ketua Presidium IPW Neta S Pane, aksi baku tembak yang terjadi di Jalan veteran, Solo, Jawa Tengah, Jumat 31 Agustus 2012 lalu, bukanlah dilakukan teroris yang selama ini disebut-sebut oleh pihak kepolisian.
Menurutnya, ada perbedaan signifikan antara penembakan Detasemen Khusus (Densus) 88 pada aksi baku tembak yang terjadi di Jalan Veteran, dengan penyerangan di POs Polisi yang menewaskan Bripka Dwi Data Subekti (58) Kamis 30 Agustus 2012 malam sekira pukul 21.00 WIB itu.
"Perbedaan ini, sangat signifikan. Pertanyaannya, siapa yang berani menembak polisi dari jarak dekat? Tak lain adalah orang-orang terlatih dan orang-orang yang sudah terbiasa berada di lingkungan aparat keamanan," ujarnya dalam keterangan yang diterima Sindonews, Selasa (4/9/2012).
Diingatkan Neta, baku tembak yang terjadi Jumat 31 Agustus lalu itu, dilakukan dengan jarak dekat.
Sementara selama ini para teroris selalu menyerang targetnya dengan jarak jauh memakai remot kontrol atau handphone seluler. Jika ada serangan jarak dekat, hanya aksi bom bunuh diri.
Sekedar diketahui, dua terduga teroris di Solo yakni Farhan dan Mukhsin tewas tertembak saat aksi baku tembak dengan anggota Densus 88 antiteror di samping pusat perbelanjaan Lottemart di Jalan Veteran, Surakarta sekira pukul 21.15 WIB, Jumat
31 Agustus 2012 lalu.
Selain itu, seorang anggota Densus 88 Mabes Polri Bripda Suherman dikabarkan tewas setelah mengalami luka tembak di perut dalam aksi baku tembak itu.
Sedangkan satu orang terduga teroris lainnya berhasil diamankan petugas. Pria berinisial B tersebut kini menjalani pemeriksaan intensif di Jawa Tengah, terkait aksi-aksi teror yang terjadi di Solo sepanjang Agustus 2012.
(mhd)