
Koran SINDO
Sindonews.com - Aksi terorisme masih menebar ancaman di Indonesia. Sel-sel kelompok teroris terus tumbuh dan kini menyasar remaja sebagai target perekrutan.
Tiga terduga teroris yang berhasil dilumpuhkan tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri dalam penyergapan di Kota Solo dan Kabupaten Karanganyar, Jumat 31 Agustus 2012, semuanya berusia remaja. Mereka adalah Muksin (19), Farhan (19), dan Bayu Setiono alias Bayu Setiawan (22). Nama terakhir bahkan diakui keluarganya baru berusia 16 tahun. Muksin dan Farhan tewas dalam baku tembak dengan Densus di Jalan Veteran Solo, sedangkan Bayu Setiono ditangkap aparat dalam penyergapan di malam yang sama.
Polri memastikan mereka memiliki kaitan dengan kelompok garis keras Moro di Filipina. Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan, kelompok teroris Solo merupakan sel dari jaringan besar terorisme internasional.Berbeda dengan jaringan teroris Dr Azahari dan Noordin M Top, mereka tidak mendapatkan dana langsung dari Al Qaeda.
”Makanya mereka menyerang di skala lokal saja karena tak punya dana,” ujarnya kepada harian Seputar Indonesia (SINDO) di Jakarta, Minggu 2 September 2012.
Satu sel jaringan ini memiliki tiga sampai empat orang yang memiliki keahlian berbeda.Sel-sel jaringan teroris berkembang di daerah-daerah yang jauh dari fokus aparat. ”Mereka menyasar remaja untuk indoktrinasi,” ungkapnya.
Jaringan ini mengadakan kegiatan pelatihan militer di beberapa titik di Pulau Jawa.Pelatihan militer ini bermaterikan menculik cepat, menggunakan senjata api (senpi),membongkar senpi, dan menembak cepat.
Mereka menjadikan target polisi sebagai sasaran untuk menyebar teror yang menakutkan. ”Empat tahun lalu, oleh kelompok ini, polisi difatwakan sebagai musuh yang sudah seharusnya diperangi. Maka, mereka terus menyerang polisi,” ujar Al Chaidar.
Penyidik Densus masih melakukan pendalaman untuk menelusuri identitas kelompok teroris Solo. Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Agus Rianto mengatakan, polisi masih memeriksa terduga teroris Bayu Setiono yang dibekuk di Karanganyar sebelum polisi menyergap dua terduga teroris di Solo. Penyidik juga akan kembali memeriksa terduga teroris yang pernah ditangkap sebelumnya dalam berbagai peristiwa teror.
Mereka akan dikonfrontasi dengan terduga yang baru tertangkap. ”Kita lagi mendalami, apakah kelompok ini ada keterkaitan dengan (kelompok) yang lain. Kita masih terus melakukan penelusuran,” ujar Agus saat dihubungi kemarin.
Polri juga masih melakukan penelusuran terhadap senjata yang ditemukan. ”Apakah memang itu senjata resmi polisi Filipina atau bukan. Pokoknya kita masih mendalami semuanya,” ungkap dia.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyebutkan ada kejanggalan dalam penyergapan terhadap terduga teroris di Solo, Jumat (31/8) malam. Kejanggalan pertama, pistol yang disita dari terduga teroris yang tewas adalah Bareta yang bertuliskan ”Property Philippines National Police”.
”Padahal sebelumnya Kapolresta Solo menyebutkan, senjata yang digunakan menembak polisi di Pospam Lebaran jenis FN. Pertanyaannya, apakah orang yang ditembak polisi itu benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran atau ada pihak lain sebagai pelakunya?” tanya Neta.
Kejanggalan lainnya, beberapa jam setelah penyergapan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kapolri segera meninjau tempat kejadian perkara. Padahal dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, hal itu tidak pernah terjadi. Dia beranggapan SBY tengah melakukan pencitraan politis.
Tudingan IPW dibantah Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Anang Iskandar. Menurut dia, malam itu memang ada operasi khusus dari Densus 88 Polri untuk menyergap teroris.
(azh)