
Feature
Koran SINDO
MINATNYA pada dunia militer sejak kecil membawa Lettu (Pnb) Fariana Dewi Djakaria Putri dan Lettu (Pnb) Sekti Ambarwaty menjadi dua srikandi di jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Selain dari kerja keras, perjalanan dua penerbang wanita ini memang diliputi keberuntungan.
Duduk di belakang meja ternyata tak membuat Fariana dan Ambar puas, saat itu mereka hanya prajurit bintara dengan pangkat sersan dua. Karena keinginan yang tinggi untuk menjadi penerbang, mereka nekat mengikuti rekrutmen penerbang di TNI AU. Padahal salah satu syarat untuk mengikuti kualifikasi penerbang harus dimulai dari perwira pertama berpangkat letnan dua (letda).
Namun Fariana dan Ambar tak patah arang menghadapinya. Ketika Fariana bekerja sekitar 1,5 tahun menjadi bintara wara, dan Ambar baru delapan bulan, rekrutmen penerbang wara dari bintara dibuka kembali.
Keinginan untuk menerbangkan pesawat TNI AU memuluskan langkahnya. Keduanya lolos seleksi untuk mengikuti pendidikan di sekolah penerbang di Pangkalan Udara (Lanud) Adi Sutjipto, Yogyakarta, sehingga dinyatakan lulus dan dilantik sebagai perwira penerbang.
Bukannya tanpa kendala mereka masuk seleksi di sekolah penerbang Lanud Adi Sutjipto. Keduanya yang bukan dari keluarga militer ini sempat kaget dengan sistim sekolah penerbang.
"Setelah masuk Sekbang, enggak boleh ketemu keluarga, dikurung di mes hanya boleh keluar (pesiar) pada jam-jam tertentu,” cerita Ambar mengenang awal-awal pendidikannya sebagai penerbang.
Fariana dan Ambar mengenang, sejak kecil memang tertarik dengan dunia militer. Tidak seperti anak perempuan lainnya, mereka lebih memilih pistol-pistolan untuk bermain. Bahkan ketika ada acara HUT RI atau memperingati hari Kartini, mereka lebih enjoy mengenakan baju tentara dibanding kebaya bersanggul.
Sejak dilantik menjadi penerbang pada 2007 silam, beragam pengalaman telah mereka dapatkan. Tak terkecuali pengalaman-pengalaman yang dirasakan unik. Suatu ketika dalam penerbangan ke Bima, cerita Ambar, dirinya pernah mendapati petugas tower bandara turun mendekati pesawat yang dipilotinya, sesaat setelah mendarat.
"Bapak petugas tower hanya ingin memastikan kalau pilotnya benar-benar perempuan. Saya hanya tertawa-tawa saja,” kata penerbang pesawat CN-235 ini.
Respons kaget dan tak percaya biasanya muncul saat pesawat mendarat di landasan udara (lanud) yang selama ini jarang dia singgahi. Di lain waktu, kejadian tak kalah mengejutkannya juga terjadi. Dalam persinggahan di suatu lanud yang dijadwalkan hanya sebentar, lalu terbang lagi, sehingga tidak perlu mematikan mesin pesawat, ternyata telah dikumpulkan anak-anak TK di bandara itu.
“Mereka mengajak foto-foto. Ya sudah, akhirnya mau enggak mau kita cut engine (matikan mesin). Kita juga ingin mereka terinspirasi dan termotivasi,” kata penerbang yang bersuamikan seorang navigator TNI AU tersebut.
Fariana sendiri mendapat pengalaman yang tak kalah seru. Karena sering singgah lama di suatu daerah, jadi ketika di sana kesannya seperti artis.
"Pejabatnya heran ternyata ada (penerbang TNI AU) cewek. Dengan pejabat lanud lain kan kita jarang ketemu, mereka antusias dengan kita. Mungkin mereka juga bangga punya penerbang cewek. Penerimaan mereka asyik. Kita diajak foto-foto, diajak dan diperkenalkan ke muspida. Ini lho TNI AU punya ini (penerbang wara),” cerita Fariana.
(ysw)