Sang Penyebar

Imam Lapeo, konon punya 74 karamah (2)

Imam Lapeo, konon punya 74 karamah (2)
Foto: dok sindonews

Sindonews.com - KH Muhammad Thahir atau yang lebih kenal dengan Imam Lapeo, tidak hanya dikenal sebagai ulama yang menyebar Islam di tanah Jazirah Mandar, Sulawesi Barat. Tapi, yang tak kalah penting lagi adalah cerita unik tentang kisah-kisah semasa hidupnya.

Dalam buku yang memuat tentang perjalanan hidup Imam Lapeo yang ditulis oleh cucu Imam Lapeo sendiri Syarifuddin Muhsin, ada 74 karamah (kelebihan) dalam kisah hidup Imam Lapeo. Sebagian di antaranya, menyelamatkan orang tenggelam, melerai perkelahian di Parabaya, menghentikan penyiksaan KNIL, jadi perlindungan Arajang Balanipa, berbicara dengan orang mati, menangkap ikan di laut tanpa kail, memendekkan kayu, menghardik jenazah, mengatasi pendoti-doti (guna-guna), berjumat pada tiga tempat pada waktu bersamaan, menebang kayu dengan tangisan bayi, naik becak ke Mamuju, membatalkan tunangan dengan anggota Muhammadiyah, tidak suka bunyi-bunyian (musik).

Peran Imam Lapeo, tidak terlepas dengan karamah kesufian yang ada pada dirinya. Misalnya, tangannya kebal terhadap api. Diceritakan, selama belajar di hadapan Sayyid Alwi al-Maliki, Imam Lapeo juga bertindak sebagai penuntun unta terhadap gurunya dalam berbagai perjalanan.

Saat sang guru Sayyid Alwi al-Maliki bersama muridnya Imam Lapeo melakukan perjalanan antara Mekkah dan Madinah, karena keamanan di jalan kurang terjamin, mereka singgah istirahat dan berkemah di jalanan. Ketika itu, sang gurunya mengetahui Imam Lapeo mengisap rokok. Sang Guru langsung mengambil rokok tersebut dari tangannya, dan rokok yang terbakar itu ditekankan ke telapak tangan muridnya. Dalam keadaan demikian, Imam Lapeo tidak merintih dan tidak merasakan kesakitan, malah hal itu dibiarkannya sampai semuanya selesai.

Sementara, pengalaman pertama Imam Lapeo ketika baru saja berada di Mandar, adalah penduduk setempat mencoba mengujinya, melakukan semacam permainan berbahaya. Waktu itu, Imam Lapeo sedang khutbah di atas mimbar pada hari Jumat, dan bersamaan itu pula muncul suatu gumpalan api yang sangat tajam cahayanya.

Gumpalan api yang pada mulanya laksana sebutir telur yang sinarnya sangat tajam itu, tiba-tiba menjadi besar dan bergerak dari depan dengan kencangnya menuju ke hadapan Imam Lapeo. Pada saat menentukan, dan sejengkal lagi gumpalan api itu mengenai mukanya, Imam Lapeo hanya bergerak dengan isyarat matanya. Akhirnya gumpalan api itu menyingkir dari hadapannya dan mengenai tembok di belakang mimbar. Tembok masjid tersebut hancur rata dengan tanah.

Kisah lain adalah, Imam Lapeo menundukkan ular. Suatu ketika, Imam Lapeo diundang mengahadiri pesta walimah di Tapalang, daerah Mamuju. Ketika resepsi makan dimulai, tiba-tiba muncul ular-ular di piringnya yang ingin digunakannya untuk makan. Ular-ular tersebut, tiada lain dari orang tertentu yang konon kabarnya ingin mempermalukan Imam Lapeo di tengah pesta.

Imam Lapeo sebagai ulama sufi yang tawadhu, hanya menyaksikan ular-ular itu meliuk-liukkan badannya, sampai akhirnya jumlah ular bertambah banyak dan meloncat-loncat. Walhasil, hanya dengan mengancam ular-ular itu dengan memberi isyarat, maka dengan seketika ular-ular tadi hilang dengan sendirinya.

Selain  itu, sepeninggalan beliau, hingga saat ini, kuburannya banyak didatangi orang. Ada suatu kaedah dalam kewalian dan kesufian yang menyatakan seorang waliyullah apabila nampak karamah (keluarbiasaan) pada waktu hidupnya pada dirinya. Maka akan nampak pula keramat pada waktu sesudah matinya.

Seorang sufi, apabila dikunjungi orang pada waktu hidupnya, maka dikunjungi pula banyak orang sesudahnya matinya/makamnya. Hal inilah yang terjadi pada diri Imam Lapeo, dimana kuburannya dikunjungi oleh banyak orang, terutama pada hari-hari tertentu, misalnya pada saat-saat sebelum pemberangkatan dan setelah kembali dari tanah suci Mekkah.

Walaupun kiprah dan perjuangan Imam Lapeo sering direduksi dan dibumbui dengan hal-hal yang berbau supranatural seperti cerita tentang kemampuannya berada di dua tempat sekaligus; menaklukkan para tukang Doti, namun intelektual sekelas Emha Ainun Najib meyakini kisah-kisah Imam Lapeo.

Ada banyak nelayan Mandar yang percaya, bila terhadang badai di tengah laut, mengingat sang panrita untuk kemudian memanggil namanya adalah salah satu cara menaklukkan badai. Ya, itulah salah satu bentuk betapa orang Mandar menganggap Imam Lapeo sebagai ulama berkaramah. Banyak rumah di Mandar memasang fotonya di dinding rumah. Banyak kasus, foto ukuran kecil Imam Lapeo dijadikan jimat (disimpan di dalam dompet).

(azh)

views: 7.805x

 

shadow