Hot Topic Profil Partai Politik Indonesia 2014
Hot Topic Road to SBMPTN

Tajuk Sindo

Semangat kemandirian

Koran SINDO

Rabu,  25 Juli 2012  −  08:39 WIB
Semangat kemandirian
foto: Dok. okezone

Sindonews.com - Pemerintah menggagas pengembangan mobil listrik sebagai mobil nasional (mobnas). Upaya ini luar biasa dan pantas mendapat dukungan dari semua pihak meski agak tertinggal dari negara-negara lainnya seperti Malaysia, Korea Selatan, India, China, dan Iran.

Beberapa negara tersebut yang secara ekonomi memang maju telah lama mengembangkan mobil nasional. Sedangkan Indonesia tengah merintis.Meski terlambat, kita harus tetap semangat kemandirian. Pilihan mobil listrik sebagai mobil nasional bukan tanpa alasan yang kuat. Hemat energi dan karya anak negeri menjadi alasan yang kuat dari pemerintah untuk memberikan dukungan regulasinya.

Ya, karena memang menggunakan energi listrik, bukan minyak, serta dikerjakan oleh tenaga-tenaga lokal, Menteri BUMN Dahlan Iskan bersemangat untuk mendorong mobil ini menjadi mobil nasional. Namun, kita juga harus realistis dengan kondisi yang ada. Untuk menjadikan mobil listrik ini sebagai mobil nasional dan berujung pada produksi massal, beberapa syarat harus dimiliki segera. Salah satu syarat dan rasanya sangat penting adalah ketersediaan dan kesiapan infrastrukturnya.

Pemerintah pasti menyadari hal ini, infrastruktur sangat penting bagi keberlangsungan mobil listrik ini. Tanpa ada ketersediaan dan kesiapan infrastruktur, sama juga dengan proyek omong kosong. Selain infrastruktur, kesiapan lainnya seperti pengembangan mobil listrik ini juga harus menjadi perhatian. Pengembangan dan riset juga harus terus dikembangkan untuk terus mendukung performa dari mobil ini.

Jika dilihat dari performa saat ini, mobil listrik buatan Dasep Ahmadi, warga Depok, Jawa Barat ini mampu menempuh jarak hingga 150 km jika baterai di mobil terisi penuh. Melihat dari performa di atas, mobil ini hanya diperuntukkan untuk mobil dalam kota. Untuk perjalanan luar kota, rasanya kemampuan tempuh 150 km belumlah cukup. Ini yang harus masih dikembangkan dan membutuhkan waktu lama.

Pemerintah juga harus melakukan komunikasi dengan kalangan industri mobil yang selama ini sudah menguasai jalanan Indonesia. Beberapa industri mobil dunia yakini memang sudah menyiapkan konsep mobil listrik, namun hingga sekarang mereka belum berani memproduksi massal karena pertimbangan return of investment(ROI) yang belum terlalu besar. Nah, jika nanti regulasi dan infrastruktur sudah mapan, apakah mobil listrik yang akan dijadikan mobil nasional siap bersaing?

Hal-hal tersebut yang harus terus diperhatikan pemerintah. Syarat-syarat tersebut cukup besar dan berat.Kita semua juga tak harus mengecilkan upaya pemerintah. Sebaliknya, kita bahkan harus mendorong pemerintah agar upaya ini bisa segera direalisasikan. Toh, tujuan dari program ini adalah baik yaitu penghematan energi dan kemandirian bangsa. Semangat ini yang harus kita miliki. Jadi dukungan yang pantas diberikan adalah semangat, bukan bentuk fisik dari program ini.

Dukungan yang sama juga harus diberikan kepada mobil Esemka milik warga Solo. Bukan bentuk fisik yang harus dicaci atau direndahkan,melainkan kemandirian dan kemampuan anak bangsa yang harus didukung. Sayangnya, pemerintah seolah hanya memandang sebelah mata tentang proyek mobil Esemka itu. Pada kasus mobil Esemka,pemerintah hanya melihat bentuk fisik dari proyek ini, bukan melihat semangat kemandirian dari anak bangsa.

Baik mobil listrik maupun mobil Esemka sudah semestinya dilihat dari semangat kemandirian anak bangsa, bukan bentuk fisik program ini. Sudah sepatutnya semua yang berbau kemandirian untuk kemajuan bangsa harus didukung.

Kesuksesan suatu program atau proyek bukan hanya pada hasil, melainkan proyek seharusnya menjadi dasar melakukan penilaian. Bangsa ini butuh semangat kemandirian karena memang negeri ini mempunyai potensi sumber daya yang luar biasa. Buktikan, bangsa ini bisa

 

(azh)

 

shadow