
Koran SINDO
Sindonews.com - Dalam seminggu kemarin Indonesia kedatangan dua bintang top sepak bola dunia, yakni Francesc “Cesc” Fabregas dan Xabi Alonso. Terlepas dari segi bisnis, kunjungan mereka ke Indonesia ini bagaimana pun patut diapresiasi.
Apalagi Fabregas yang telah dua kali bertandang ke Indonesia sempat merumput bersama tim nasional (timnas) Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno. Kunjungan pemain bola tersebut menambah daftar jumlah pemain kelas dunia yang mampir menyapa fans-nya di Indonesia. Pada awal 2012, datang juga Fabio Cannavaro, Edgar Davids, Robert Pires hingga Edwin van der Sar yang tiba di Indonesia pada Juni lalu.
Fenomena ini setidaknya memiliki sejumlah pesan menarik. Pertama, Indonesia kian dipercaya sebagai negara yang kondusif dan dinilai aman bagi pendatang, termasuk para bintang asing. Hal ini juga tak terlepas dari keberhasilan Indonesia saat menjamu para pemain bola dunia yang datang sebelumnya. Kesuksesan berbagai konser musisi asing juga menambah kepercayaan dunia terhadap iklim keamanan negara ini.
Kedua, jumlah penduduk yang besar dan antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola menjadikan magnet tersendiri bagi pemain asing untuk datang ke sini. Mereka sadar jumlah fansnya di Indonesia sangat besar. Keramahan masyarakat Indonesia terhadap para pemain asing ini merupakan daya tarik bagi mereka. Ketiga, kedatangan mereka merupakan promosi yang baik bagi Indonesia, terutama untuk mengenalkan lebih baik negara ini ke kancah global.
Harus diakui bahwa keberadaan Indonesia masih kalah terkenal dengan Bali dalam bidang pariwisata. Kedatangan pemain asing sekaligus bisa dijadikan promosi bagi peningkatan pariwisata Indonesia. Kunjungan para pemain asing ini sudah seharusnya bisa menjadi pemicu bagi kemajuan sepak bola Indonesia yang akhir-akhir ini sedang puasa prestasi. Artinya, kita harus memanfaatkan momen tersebut bagi pendorong kemajuan sepak bola kita.
Jangan sampai yang terjadi sebaliknya. Jangan sampai kita hanya dimanfaatkan para event organizer yang mendatangkan pemain asing ke Indonesia tanpa keuntungan berarti yang didapat negara ini. Hal ini harus disadari agar kita tidak terjebak dalam kepentingan hiburan sesaat. Kedatangan para bintang dunia ke Indonesia harus dijadikan inspirasi dan pelecut bagi kita untuk mendorong prestasi sepak bola agar berjaya lagi. Bermain bersama pemain top dunia jelas peristiwa langka bagi pemain timnas kita jika tidak ada event seperti itu.
Karena itu, mereka harus benar-benar memanfaatkan sebagai ajang pelatihan dan banyak mengambil ilmu dari para bintang asing tersebut untuk menambah kapasitas diri mereka. Hal itu akan membuat kepercayaan diri para pemain nasional kita bertambah. Bagaimanapun fenomena minimnya prestasi di tengah antusiasme masyarakat akan sepak bola membuat kita prihatin dan sedih. Bagaimana kita bisa kalah dengan Malaysia, Singapura atau Thailand?
Apalagi di masa lalu, prestasi sepak bola kita sempat menjadi macan Asia yang disegani lawan. Prestasi tidak hanya bicara materi pemain, yang tak kalah penting adalah soal manajemen sepak bola kita yang masih amburadul. Nihilnya prestasi bola selama ini jelas mengisyaratkan perlu adanya perubahan mendasar pola pengelolaan sepak bola Tanah Air.
Pembenahan manajemen sepak bola harus dilakukan secara menyeluruh, profesional, serta dijauhkan dengan gaduhnya hiruk-pikuk politik. Masuknya politik dalam pengelolaan bola membuat sepak bola menjadi makin tidak profesional dan terpuruk. Dengan pengelolaan yang profesional, pelatihan yang baik,dan didukung pembibitan pemain sejak dini, Indonesia bukan tidak mungkin bisa menjadi kiblat sepak bola di masa mendatang.
(azh)